Showing posts with label migrated. Show all posts

Kraft Macaroni & Cheese Dinner


Rating:★★★
Category:Other
Setelah beberapa waktu menyantap dan rada ketagihan dengan variant rasa dari San Remo, produk ini muncul di deretan import food nya Hypermarket Galeria Denpasar. Berhubung penasaran dengan klaim "The Cheesiest"nya, sambil membayangkan derajat cheesiness diatas San Remo's Four Cheeses, tentu saja kamipun ngiler dan tergerak untuk mencoba menu yang satu ini. Apalagi price wise, harganya cuma lebih 3 ribuan dibanding San Remo's, sementara isi gram yang jauh lebih banyak (206gr vs. 120gr).

Yang rada mengherankan, berbeda dengan San Remo, maka cara memasak Mac n Cheese nya Kraft ini rada berbeda; kalau San Remo menyarankan bumbu dimasukkan pada saat pasta setengah matang, hingga kemudian bumbunya lebih meresap seiring jumlah cairan yang makin ter-reduksi, maka Kraft mengambil pendekatan lebih simple; masak hingga matang macaroninya, buang airnya, tabur bumbunya, siap makan! Namun berhubung rada kurang yakin dengan cara ini, melihat si bubuk keju sangat kering, sedangkan macaroninya juga diinstruksikan harus ditiriskan sampai tidak berair, akhirnya kami memilih untuk sedikit improvisasi mengacu ke caranya San Remo: Sisakan sedikit air rebusan pasta, masukkan bumbu sambil terus diaduk diatas api kecil hingga airnya berkurang dan tersisa larutan kental bumbu kejunya.

Sayangnya, waktu diicip sambil masak (curi start), ternyata gambaran "cheesy" nya berbeda dengan ekspektansi awal gw... rasanya rada bland, dan karakter keju yang sangat menonjolnya adalah cheddar; yang mana kurang nendang dari segi rasa. Yah... Namun ya su, mac n' cheese yang sudah matangnya dipindahkan ke mangkuk, buat gw dan isteri review.

Kesimpulannya, dari segi rasa masih kalah tajam dengan Four Cheese nya San Remo, namun sensasi selimut rasa cheddar nya cukup menggugah meskipun cuma dalam level mild saja. Alternatively, buat mengejar cita rasa yang gw harapkan ternyata cukup dengan menambahkan sedikit Chicken Cube nya Maggi (Royco might works too), dan hasilnya si karakter rasa mild dari cheddarnya jadi keangkat banget.

Berhubung porsinya yang lumayan gaban, dan karakter rasa yang kurang menggugah buat isteri, maka porsi beliau masih nyisa setengahnya dan masuk kulkas. Besoknya pas kelaperan di pagi hari, mac n cheese dingin ini gw bereskan, tanpa tambahan apa-apa dari versi aslinya, dan ternyata dingin membuat karakter rasa si keju makin berkibar. Kenyataan yang menarik, karena si leftover mac n cheese dingin ini jadinya lebih nikmat dibandingin waktu masih panasnya.

Atau gw aja doyan ma yang dingin-dingin ya? (bay)

San Remo Quick Pasta


Rating:★★★
Category:Other
Walaupun relatif baru masuk ke pasar Indonesia, dibandingkan La Fonte misalnya, atau Honig yang sudah 30an tahun beredar, San Remo melakukan langkah yang cukup berhasil dengan membidik konsumen instant food. Hal ini dilakukan dengan mengeluarkan produk San Remo cepat saji dalam kemasan 120gr dan pilihan rasa yang beragam, mulai yang lazim seperti Carbonara, Alfredo, Creamy Mushroom, dan Mac n' Cheese, hingga yang kurang lazim seperti Four Cheeses, Sour Cream and Chives, serta Chicken Curry.

Harga satu paket nya 15 ribuan, dan untuk masaknya dianjurkan menggunakan sedikit susu serta margarin / mentega. Waktu masak cukup 10 menitan, dan hasilnya pun ternyata cukup memuaskan dan bisa untuk konsumsi dua orang. Cocok buat peminat pasta yang rada males nyiapin masakan dari nol, atau pengen cepet, mudah, enak.

Sejauh ini dari sekian banyak variant rasa yang dicoba, yang paling nendang adalah Four Cheeses karena rasa keju nya paling strong, sedangkan next in rank adalah Creamy Mushroom dengan rasa krim yang mild. Sour Cream nya rada kurang sip karena kurang asem, Mac n' Cheese nya lumayan tapi masih kurang cheesy dibanding Four Cheeses, sedangkan Carbonara nggak gw coba karena sedang pantang makan babi (udah 30 taunan).

Dengan tampilan sachet plastik berhias gambar yang menggoda, produk ini jauh lebih menarik minat gw dan isteri dibanding La Fonte misalnya, yang sebenarnya telah terlebih dahulu mengeluarkan produk serupa, namun dalam kemasan kotak yang kalah mencolok maupun mengundang, padahal dengan range harga yang relatif lebih murah.

Dari sudut yang berbeda, tak berapa lama lalu saya nemu produk serupa keluaran rajanya keju Indonesia; Kraft, dan mereka meng-klaim produknya sebagai "the cheesiest". Gimana hasil test kami? Silakan tunggu di ulasan berikutnya. (bay)

Image dari: http://www.lifeasamummy.com
Product website: http://www.sanremo.com.au

Food Note: Dodol Rumput Laut Lombok

Bayudita, tetangga depan cubicle, hari ini bawa oleh-oleh unik lagi. Setelah sebelumnya dapet kiriman amplang, kali ini dia bawa sesuatu yang lain; dodol rumput laut Lombok. Walaupun rada jengah sama manisnya dodol, namun keseriusan baca-baca email gw terusik juga waktu ngeliat tampilan dodolnya yang unik: bening dan kaku. Lebih mirip candy stick atau agar-agar bakar favorit gw itu, daripada mirip dodol yang rata-rata butek.

Kemasannya juga professional: bentuk dan potongan rapi yang dikemas dalam plastik individual berwarna bening.Bungkus luarnya katanya bagus juga, tapi berhubung dah dibuang sama yang punya maka gw cuma bisa nyari tau lewat Google dan berhasil; malah ternyata ada juga toko yang jualan produk ini online.

Kalau dipegang rasanya kaku, dan terlihat masih ada serpihan kertas-kertas tipis menempel di sekujur body nya; yang ternyata bukan kertas, jadi gw duga itu adalah sejenis lapisan tipis agar-agar kering yang melt in your mouth, seperti yang terdapat di permen susu china gambar kelinci itu.

Sewaktu dicoba, rasanya juga ternyata nggak terlalu manis! Berbeda dengan konvensi standar dodol yang tingkat manisnya itu antara tinggi, hingga amit-amit. Teksturnya keras kenyal, kekenyalannya mirip dengan kekenyalan Konyaku instant produksi dalam negeri, tapi dalam tingkat kadar air yang lebih kering lagi. Kalau dari segi rasa, selain manis dan sensasi kenyalnya ini, maka nggak ada rasa yang significant. Perasa tambahannya juga nggak terlalu kentara, dan cuma lewat sekilas saja di indera pengecap; jadi ini bener-bener dodol yang karakternya soft banget.

After taste nya yang rada kurang enak: asem di belakang mulut, mirip seperti after taste kalau abis minum teh manis anget pagi-pagi; hal ini rada mengherankan, soalnya tadi rasa manisnya nggak terlalu heboh untuk nimbulin after taste sedemikian.

Walau demikian, ini jenis dodol yang unik dan nggak seperti dodol-dodol lainnya yang sudah ada. Mungkin secara taksonomi memang bukan dodol juga tapi dinamai sedemikian supaya lebih mudah diterima publik? Ah ribet amat, yang pasti penganan yang satu ini layak buat dijajal, terlebih buat mereka yang kurang toleran sama dodol standar, yang biasanya terlalu manis. (bay)

Food Note: Sup Bulu Babi ala Pulau Serangan

Salahsatu highlight dari acara Denpasar Festival 2009 adalah berkumpulnya makanan-makanan khas dari seputar daerah Denpasar, salahsatunya; dari Pulau Serangan. Kalau pada tulisan sebelumnya saya menuliskan mengenai nikmatnya makan Tongkol Bakar di Pulau Serangan, serta gurihnya krupuk Klejat, maka kali ini di salahsatu stand Denpasar Festival saya berkesempatan mencoba jenis masakan khas lainnya dari pulau nelayan ini: Sup Bulu Babi.

Bulu Babi atau Landak Laut adalah hewan laut yang hidup di perairan dangkal, memiliki duri-duri tajam yang panjang dan rapuh sebagai pertahanan diri, hewan yang satu ini merupakan salahsatu bahaya alami bagi para penyelam, karena luka tertusuk duri Bulu Babi ini bisa mengakibatkan infeksi yang serius. Walaupun merupakan negara maritim, Bulu Babi merupakan makanan yang relatif kurang dikenal di Indonesia sehingga tidak dibudidayakan secara komersil. Padahal di negara Jepang sana, kelenjar reproduksi hewan ini (gonad) adalah salahsatu topping Sushi yang digemari dan memiliki nilai komersil tinggi dengan nama "Uni". Secara internasional, hewan ini dikenal dengan nama "Sea Urchin".

Di Pulau Serangan, hidangan ini dinamai "Sup Toro-Toro", dimana jeroan cangkang Bulu Babi ini dimasak dalam sayur bening agak pedas. Berhubung saya belum pernah makan Uni Sushi, maupun masakan lain dari Bulu Babi, makanya waktu memesan hidangan satu ini nggak ada dugaan apa-apa di kepala. Malah saya memesan langsung dua ekor, optimis dengan food experience yang akan saya rasakan. Apalagi hidangan ini disajikan dengan presentasi yang cukup menggugah semangat bertualang rasa saya; si Bulu Babinya ditampilkan masih dalam cangkang, dengan sedikit duri-duri yang masih menempel di bagian luarnya. Setelah kita memesan, barulah si cangkang si Bulu Babi dirusak, dan isinya disendok keluar untuk dicampur dengan kuah sup. Rasanya..?

Dengan warna daging yang kuning coklat keunguan, dan tekstur yang lembek mirip pepes perut ikan, ternyata jenis makanan yang saya sebut terakhir itulah yang paling mewakili rasa Toro-Toro ini; anyir dan amis, sedikit manis menjurus pahit, mirip rasa lemak di perut ikan. Hanya saja teksturnya lebih ke halus bersagu, dibanding perut ikan yang cenderung jelly-ish dan lebih kenyal. Salahsatu makanan paling menantang sejauh ini yang pernah gw rasakan. Very acquired taste.

Yang bikin penasaran, di Sup Toro-Toro ini kelihatannya yang dipakai adalah seluruh isi cangkang si Bulu Babi, berbeda dengan Uni Sushi yang hanya menyertakan bagian gonadnya saja. Apakah ini yang membuat rasa sup ini ekstra amis? Apalagi ternyata bumbu kuah supnya sendiri tidak terlalu banyak menolong; hanya sedikit asin dan sekilas pedas, berbeda jauh dengan asumsi awal saya kalau kaldunya akan seperti dashi nya Jepang yang gurih dan strong itu. Jadi kesimpulan saya setelah menikmati Sup Toro-Toro adalah; ini jenis makanan yang masih perlu dikembangkan lagi, dengan penambahan bumbu yang lebih tajam misalnya, dan treatment khusus pada bahan dasarnya untuk menghilangkan si rasa amis yang mengganggu, karena dengan cara masak seperti ini cenderung kurang menampilkan karakter khas rasa daging Bulu Babi... kalaupun ada. Saya cuma bercermin dari kebiasaan masyarakat Jepang menikmati Uni Sushi, yang berarti seharusnya ada karakter rasa yang plus dari hewan satu ini.

Walhasil, walaupun dua ekor Bulu Babi hanya memiliki daging sekitar dua sendok makan, namun sepertinya hidangan ini nggak habis-habis dimakan. Masih untung dalam memesan Sup Toro-Toro ini saya memesan juga ketupat, dan Jukut Bulung (urap rumput laut) yang lumayan ampuh menetralisir rasa amis si Sup Bulu Babi. Lain kali dalam menghadapi hidangan yang benar-benar asing saya harus lebih rendah hati... pesen satu saja dulu.

Selain dari dibuat sup, Bulu Babi di stand Pulau Serangan ini disajikan juga dalam bentuk pepes (5K), sedangkan versi gorengnya nggak saya temukan. Ada yang pernah mencoba juga? Gimana pengalaman anda? (bay)

Food Note: Mie Ayam Beuleudag, Ciateul, Bandung

Waktu pulang nengok ortu di Cikajang, deket kost-an si adik ternyata ada warung mie ayam baru. Walaupun dah buka puasa, tapi karena penasaran jadinya ya dicoba juga, secara gw nggak bisa nggak kalau soal Mie Ayam sih.

Tendanya sepi, cuma ada dua orang yang ternyata adalah pengelola warung mie ayam tersebut. Gw mesen satu porsi, mereka nggak nanya soal kelengkapan jadi gw assume secara defaultnya adalah menu komplit.

Nggak berapa lama kemudian satu mangkuk mie ayampun siap. Porsinya terlihat mungil, dan berhubung gw makannya di mobil bersama isteri dan adik yang males turun, jadinya rada-rada kurang jelas tampilan visualnya gimana, tapi dari yang terperhatikan sih mienya bukan jenis mie keriting ataupun mie tepung yang biasa dipakai di mie ayam jenis lokal, jadi lebih mirip ke mienya jenis chinese. Sebagai topping, cacahan daging ayam cukupan, sekeping pangsit goreng, sebiji pangsit kuah, dan dua butir bakso yang seperti bakso urat.

Sewaktu mulai dicoba, ternyata mienya lumayan lembut dan kenyal, minus rasa-rasa tepung yang biasanya ada di mie2 ayam lokal yang gw kurang suka. Karakter rasa cacahan ayamnya sendiri cukup diluar dugaan; mantep! Ditambah sama gurihnya bumbu-bumbu pada mienya, total jendral rasanya jadi nendang banget! Dan 80%nya daging beneran, bukan kulit ataupun tulang. Apalagi ternyata si pangsit gorengnya kriuk sekali, dan bakso urat yang disertakan pun not bad at all, dan bukan murni bakso urat cuma sekedar daging bertekstur agak kasar. Sedangkan pangsit kuahnya... mengejutkan juga! Dagingnya relatif banyak dan gurih! Bukan sekedar lembaran kosong pangsit atau diisi daging tapi sarat doang. Dan gwpun jadinya seperti dapet pencerahan... kayaknya ini the best mie ayam so far selama pengembaraan gw selama setengah taun ini di Bandung deh! Langsung aja hatipun girang karena ngerasa udah nemu tempat mie ayam favorit baru...

Bumbu yang rada custom, bakso yang sepertinya buatan sendiri, dan jenis mie yang juga beda, menunjukkan kalau warung Mie Ayam Beuleudag ini cukup serius memperhatikan kualitas dagangannya, diulik gitu lho.

Kalau dibandingkan, memang masih belum bisa mengambil alih ranking #1 di list gw, yaitu Mie Ayam Yunus (Tebet, Jakarta), tapi tipisss saja kurangnya; porsi disini agak sedikit kalah, juga karakter rasanya lebih tinggi kadar manisnya dan lebih soft dibandingin Mie Ayam Yunus. Baksonya juga kalah kelas, tapi yang Mie Ayam Beuleudag ini juga salah kalau dibilang nggak enak, yaa beda tapi tetep enak juga lah.

Dari segi harga, semangkuk komplit Mie Ayam Beuluedag ini harganya cuma 8K! Wah, pas di lidah pas di kantong ternyata.

Si masnya sendiri waktu sedikit diwawancara bilang kalau mereka baru buka disana dua bulanan (Juli 09), buka biasanya dari siang sampai malem, kecuali saat selama bulan puasa buka baru dari pukul 5 sore.

Very recommended! (bay)

Food Note: Telur Asin Asap

Jaman dahulu kala, yang gw inget dari telur asin adalah statusnya sebagai staple food dikala bepergian. Mau itu bersama lontong ataupun going solo, statusnya tetep, kalau mau jalan jauh atau piknik, atau kemping, maka telur asin ini harus ada!

Namun seiring waktu, kebiasaan itu sendiri lambat laun semakin berkurang, dan akhirnya menghilang...

... atau masih ada yang disuguhin telur asin plus lontong instead of McD kalau lagi darmawisata?

(Membayangkan acara outing kantor di Dufan, dan semua asik ngunyah telur asin dan lontong...)

Namun walaupun konsumsi nasional mungkin menurun, tapi penggemar makanan unik yang satu ini tetep ada, dan para juru masakpun tak henti-hentinya muncul dengan inovasi. Hal ini tak lain, karena aroma dan tekstur telur asin yang cenderung unik. Tidak se-unik Telur Pitan (Century egg), tapi karena itu pula lebih mudah untuk di padu-padankan dengan aneka masakan, salahsatu yang paling ngetop adalah Udang Telur Asin.

Dari sisi produsen, baik teknologi maupun cara pengolahan telur asin cenderung tidak berkembang banyak mungkin dalam limapuluh tahun terakhir. Namun demikian, salahsatu inovasi dalam hal pengolahan sesekali muncul misalnya seperti yang banyak dipraktikkan sekarang ini, yaitu dengan melakukan proses pengasapan di akhir proses produksi. Dan masyarakatpun kemudian mengenal satu varian baru makanan ini, yaitu Telur Asin Asap.

Dari segi penampilan, makanan yang satu ini memiliki ciri adanya karakter warna marbling kecoklatan pada kulit telur. Beberapa masih memiliki warna dasar biru, sedangkan lainnya ada yang coklat penuh sehingga memiliki kemiripan dengan telur pindang.

Sistem penjualannya, biasanya di toko-toko diletakkan di dry storage, dalam bentuk kemasan satu pak tapi boleh dibeli satuan.

Dari segi rasa, spesimen yang gw temui di Carrefour (gara-gara nyokap penasaran pengen beli), ternyata memiliki kualitas yang baik. Rasanya nggak terlalu asin, dan terdeteksi adanya aroma smokey yang lembut. Lucu juga soal aroma ini, karena setelah diperhatikan betul-betul sepertinya nyaris nggak ada perbedaan rasa dengan telur asin biasa, hanya saja penambahan aroma tersebut membuat sensasi kenikmatannya cukup berbeda. Apalagi nuansa aroma smokey nya ini terus terbawa hingga ke tahap aftertaste. Yang rada mengherankan, karakter aroma smokey nya ini justru lebih kuat di bagian kuning telurnya, dan cukup mengubah karakter rasa keseluruhan dari si kuning telur tersebut. In a good way surely.

Dijual dengan harga sekitar 3K, agak sedikit saja lebih mahal dibandingkan telur asin biasa, rasanya telur asin asap ini cukup menarik untuk variasi.

Jadi penasaran pengen nyobain juga telur asin asap yang grade-nya lebih bagus daripada punyanya Carrefour... (bay)

Image dari: http://telurasinasap.blogspot.com/ - websitenya Elmata, salahsatu produsen telur asin asap di Solo.

Dua Belibis Saus Cabe


Rating:★★★★★
Category:Other
Berawal dari kunjungan gw dan isteri ke gerai fast foodnya Carrefour Braga Walk, kami jadi penasaran sama sambel yang satu ini. Awalnya karena botol sambel di bagian meja kami kosong, oleh cook yang bertugas kami dikasih langsung sambel dalam botol aslinya. Kalau biasanya mungkin cuma bisa berujar "enak" dan "nggak enak" dan cuek bebek sama merk sambelnya berhubung nggak tau juga, nah kali ini berhubung tau merknya, dan ternyata sambelnya cocok banget di lidah gw, jadilah pulang dari sana bawa belanjaan satu botol sambel ini.

Tingkat pedes tinggi. Dalam skala Seuhah 1 - 10, sambel ini di tingkat 6 / 7. Awalnya mungkin enak-enak aja tapi hati-hati ada aftertaste nya yang bikin level pedesnya naek setingkat dua tingkat. Alamat kepedesan justru setelah selesai makan.

Karakter rasanya sendiri pedes manis gurih dengan aroma BAWANG PUTIH yang kuat. Jadinya edun. Beruhubung gw lebih sweet tongue dalam hal milih sambel, makanya Dua Belibis Saus Cabe ini cocok banget sama selera. Isteri sendiri yang biasanya nggak terlalu doyan sambel manis jadi ikutan suka juga.

Jeleknya? Selain dari tingkat pedes yang lumayan bikin keringetan, makanan apapun pake saus ini jadi berasa enak... Koq jelek? Yaa karena jadinya seringnya real-taste dari si makanan ketutup dengan sukses, apalagi yang bumbu2nya emang nggak terlalu kuat.

Sejauh ini yang kami temuin cuma versi botol kaca gede; retro sekali. Tadinya kami pikir kebanyakan tapi ternyata diserbu sama berdua jadi sebulanan juga dah abis.

Recommended.

Iga Bakar Si Jangkung


Rating:★★★★★
Category:Restaurants
Cuisine: BBQ / Ribs
Location:Jl. Cipaganti, Bandung
Hujan rintik-rintik, perut laper karena berangkat dari Jakarta jam 1 siang tadi dengan jumawanya kami nggak makan siang dulu... secara belum ngerasa lapar akibat sarapan kesiangan. Apa daya udara Bandung yang dingin ditimpali pula hujan rintik membuat suasana tidak kondusif lagi buat menahan lapar. Jadilah gw dan isteri (dan anak) berkeliaran di sekitar Pasteur, mencari apa gerangan yang bisa dijadikan tempat berlabuhnya lidah di sore hari itu.

Pukul 4 sore, setelah sekitar setengah jam muter-muter Setiabudi - Ciumbuleuit - Cihampelas tanpa hasil, akhirnya kami masuk ke Jl. Cipaganti bermaksud nyari Nasi Padang saja, siapa tau di deket martabak Sakura situ ada... Namun bukan Nasi Padang yang kami temui, malah satu tenda biru-hijau khas Kecap Bango dengan nama "Iga Bakar si Jangkung". Wah, berarti salahsatu unggulan Wisata Kulinernya Mr. Bond nih... trus teringet juga pernah baca somewhere kalau IBSJ ini style-nya bukan seperti Konro Bakar nya Makassar, tapi lebih tradisional Jawa, soalnya disajikannya aja diatas cobek.

Iga, Jawa, Cobek... maka yang terbayang tadinya adalah sejenis pecel iga, variasi dari pecel lele yang biasa dijajakan di pinggir jalan itu. Tak apa-apa, kebetulan sedang lapar daging-dagingan. Gwpun kemudian memesan satu porsi Iga Sapi Bakar (15K), sedangkan isteri penasaran dengan Sate Potong Ayam Gorengnya (15K); yang dibilang sate tapi nggak pake tusuk, nggak pake bumbu kacang pula, dan digoreng pula... kayak apa jadinya ya? Ah yang penting ayam, gitu pikir isteriku yang rada picky eaters ini.

Sungguh diluar dugaan, kalau apa yang tersaji ternyata bukanlah pecel-pecelan seperti yang gw kira, tapi lebih mirip daging bakar bersaus semur! Dengan kuah yang masih meletup-letup panas dan asap yang tebal, gara-gara disajikan lengkap dengan "cobek" panasnya, dengan penampilan cobek dan makanannya yang sama-sama hitam legam nan aduhai! Haha! Nggak salah kalau Bango jadi sponsor mereka, secara hidangan yang satu ini tak bisa lepas dari kecap kental manis!

Gimana soal rasanya? Wah edan! Rasa manis pekat dari kecap berpadu dengan asiknya dengan aneka bumbu yang dipakai, dan sekilas rasa pedas dari potongan cabai rawit. So sweet yet so rich! Potongan dagingnya besar-besar dan empuk, dengan lemak-lemak iga yang melt in your mouth. Ditimpali pula dengan irisan-irisan tomat dan bawang yang segar, serta kerak bumbu dengan karakter rasa kecap yang caramelized, super nendang buat para penggemar makanan berkarakter manis!

Sate Ayam Goreng nya sendiri sangatlah tidak mengecewakan; dengan saus yang juga manis (tapi tidak se-pekat iga bakarnya), karakter rasa ayam gorengnya yang gurih agak asin masih bisa stands-out dengan baik diantara saus kecapnya yang juga manis pedas. Tadinya penasaran juga dengan Krengsengan dan Tongsengnya tapi apa boleh buat, yang makan cuma berdua, dah lumayan kenyang pula. Apalagi sebelumnya dah "diganjel" dengan es Kelapa + Alpukat (7K) dan Jus Dragon Fruit (7K), yang juga ada disana.

Soal tempat sih yang tahan diri aja ya, soalnya di cabang Jl. Cipaganti ini tempatnya rada-rada kusam dan terlihat kurang higienis. Tapi dengan kualitas makanan (dan harga) sedemikian, it's one very hard place to resist. Will be back? Definitely!

Iga Bakar Si Jangkung
Jl. Cipaganti No. 75B, Bandung
Buka 18.00 - 23.00 WIB
Phone: 022 7005 1615 (Delivery Service)

Kitchen Nightmares


Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Documentary
Pernah denger nama Gordon Ramsay? Ramsay ini di negaranya, UK, dikenal sebagai seorang super-chef yang juga selebritis. Bagaimana nggak, semua restoran yang ia bidani berhasil mendapatkan rating-rating yang bagus dimata para food-critics, termasuk, dari satu institusi yang dijadikan barometernya kualitas restoran dunia oleh para epicurean: Michelin Guide. Selain itu, rupanya Ramsay juga memiliki bakat selebriti yang cukup akut, terbukti dengan dibidaninya acara-acara masak yang dibawakannya dengan gaya yang khas; vulgar!

Baik itu acara The F-Word, Hell's Kitchen, maupun Kitchen Nightmares, semuanya penuh dengan pertunjukan ego Ramsay dalam mengungkapkan pendapat-pendapatnya, termasuk dalam penggunaan kata caci-maki. Ramsay bahkan tidak akan segan-segan melempar piring ke badan chef arahannya, jika ia anggap makanan yang dimasak itu salah atau gagal!

Namun dibalik pertunjukan sifat vulgarnya ini, Ramsay sebenarnya sangat piawai dalam mengurus restoran, dan ini ia tunjukkan dengan baik dalam serial "Kitchen Nightmares" ini, dimana ia pergi berkeliling negara untuk mencari restoran-restoran yang kinerjanya buruk, dan berada diambang kebangkrutan.

Ramsay akan datang ke restoran bermasalah tersebut, dan mulai dengan memposisikan diri sebagai pelanggan biasa. Ia kemudian akan membuat komentar awal mengenai makanan dan manajemen restoran tersebut, sebelum akhirnya terjun langsung ke dapur untuk melihat isi "jantung" restoran tersebut. Kemudian iapun akan menyusun rencana yang tegas dan keras terkait manajemen SDM, manajemen restoran, perubahan menu, serta branding & positioning, dalam usaha memperbaiki kinerja restoran tersebut; hal yang tak jarang mengakibatkan pihak yang terlibat menjadi pucat-pasi, atau malah meledak dalam amarah.

Namun dibalik semua kericuhan yang ditimpakannya kepada para kru restoran (termasuk owner dan manajer), setelah Ramsay turun-tangan disana, biasanya si restoran mengalami perbaikan yang significant baik dalam kualitas, penghasilan, maupun kerjasama tim.

Selain dari kelucuan dalam menyaksikan bagaimana Ramsay berkomentar, atau melihat bagaimana tingkah-laku para kru didepan super-chef ini, Ramsay tak lupa membagikan pula ilmunya dalam mengelola restoran secara benar; suatu ilmu yang sangat berguna. Disini penonton juga jadi mengetahui sedikit-banyak mengenai manajemen pengelolaan restoran; mendidik sekaligus menghibur; gw suka acara-acara TV yang seperti ini.

So, guys and gals, either kalian tertarik dengan dunia masak, ingin membuat restoran sendiri, atau sekedar gemar makan di restoran, acara TV yang satu ini wajib jadi santapan dikala senggang.

Tapi kalau soal jam tayang di Indonesia ya maaf-maaf saja, karena afaik ini sangat tergantung kepada seberapa cepatnya koneksi internet anda =). (bay)

Q Smokehouse Factory

Rating:★★★
Category:Restaurants
Cuisine: BBQ / Ribs
Location:Jl. Panglima Polim IX No.16
Sebetulnya gw dateng kesini dengan persepsi rada salah, bahwa ini adalah tempat makan steak.

Not terribly wrong, cuma lebih tepatnya, mengacu ke nama restorannya, maka tempat ini menyajikan menu utama hidangan-hidangan yang diolah dengan cara di-asap (smoked). Jadi jangan heran kalau menu utama di tempat ini adalah smoked ribs; with the bones atau in brisket mode (slices meat only).

Daging ribs yang dihidangkan disini, telah sebelumnya diasapi dahulu selama sekitar 8 jam, dengan bumbu "rub" (balur) yang khusus. Uniknya, untuk proses pengasapan ini digunakan bahan bakar kayu buah-buahan untuk menambah aroma khusus, dan jenis kayu yang dipakainya pun selalu berganti-ganti! Pada hari kami datang, kayu yang dipakai adalah kayu Nangka.

Penasaran dengan menu utamanya, kamipun sepakat untuk memesan smoked ribs nya, dengan porsi Jumbo! (3 pieces, 400 gr). Makanan ini mau kami share berdua. Kalau ternyata porsinya kurang nendang, tinggal pesen lagi toh?

Menurut chicaluna, salad yang dijagokan adalah Asian Salad dengan saus wijennya. Sedangkan menurut pramusaji, salad unggulannya either that one, atau Chopped Salad (w thousand island dressing). Gw milih yang Asian Salad. Untuk minumnya, kembali gw ngikut rekomendasi chicaluna; untuk mesen Minty Pineapple. Sedangkan isteri, secara sedang kerajingan minuman2 strawberry, maka pilihannya nggak mengejutkan.

Setelah sekitar 10 menit, salad nya datang duluan. First impression; chick and hearty. Tersaji dalam mangkuk agak persegi, hidangan ini terdiri dari lembaran daun selada, plus tomat mungil dan taburan bihun goreng. Sebagai sausnya, saus kacang asin masam. Sayangnya, untuk hidangan yang satu ini bumbunya terlalu asin, dan aroma wijen nya nggak terasa... jadinya lebih mirip makan Asinan Bogor.

Saat nyeruput Minty Pineapple nya, langsung terasa rasa manis yang cukup pekat... padahal tadi mintanya less sugar. Setelah menginformasikan kembali ke pramusaji, maka minuman tersebut di "reparasi" walau hasilnya masih tetep diluar harapan. Informasi yang gw dapet, nanas nya pake nanas Palembang, mungkin karena itu kadar manisnya tetep tinggi. Di seberang meja, minuman Refreshing Strawberry pesenan isteri ternyata jauh lebih sukses dan sesuai harapan gw akan minuman seperti ini: nggak terlalu manis, dan segar!

Nggak lama kemudian hidangan utama yang dipesan pun datang. Nice timing. First impression: Marvelous! tiga potong daging iga asap (dua gede, satu sedeng) dengan warna coklat kemerahan yang menggoda, saling tumpuk satu sama lain, diatas genangan dangkal saus BBQ dan percikan rempah kering. Untuk side-dish nya, mereka memasangkan hidangan ini dengan roti panggang dan coleslaw.

Cukup puas dengan tampilan, lantas gimana rasanya? Iga asap yang bisa dipesan dalam kematangan medium, medium well atau really well-done ini ternyata memiliki karakter rasa daging asap yang cukup pekat. Bagi mereka yang masih asing, mungkin bisa mengambil perbandingan rasa daging dendeng yang dijual di pasaran, namun tidak terlalu manis, dan tidak anyir.

Untuk memotongnya pun tidak memerlukan usaha dan akrobat ala di Daeng Tata's; dagingnya firm dan mudah diiris. Saat dikunyah, terasa teksturnya yang agak chewy, jejak-jejak baluran spices nya, plus aroma khas daging asap. Sebenarnya masih agak diluar perkiraan, karena rasanya nggak terlalu gurih. But nevertheles enjoyable, bisa dibilang "classic" taste; relies more on the smoked meat taste than the seasoning. Tapi walau demikian, ternyata isteri suka sekali! Padahal 75:25 kalau doi nemu makanan baru, maka verdictnya adalah negatif. Hmm... inget ke Chicaluna, apakah the taste is geared more towards women taste? hehehe.

Tadinya tertarik juga buat nyoba menu lainnya yang ditawarkan, cuma apa daya perut udah overbooked.

Situasi restorannya nyaman, disregarding the fact that we're the only customers that evening. Nuansa interiornya kalem, diiringi pilihan musik yang juga kalem. Cocok buat diner berdua yayang, atau acara diner lainnya yang rada-rada serius.

Yang disayangkan, selain dari salad dan minumannya tadi, adalah susahnya dapetin pramusaji untuk additional order atau request. Product knowledge dan servis layanannya sendiri sih bagus, attentive, ramah, cuma keberadaannya agak langka...=) Untungnya sepi jadi manggil dengan suara rada keras aja udah manjur. Tapi kalau pengunjung mulai banyak maka perlu ada waiter yang rajin memantau floor supaya pelanggan nggak nunggu terlalu lama buat making another order. Pernah ke Bakmi GM? Pramusaji mereka banyak DAN semuanya secara disiplin menyapukan pandangan ke area floor, mengamati pengunjung kalau-kalau ada yang perlu bantuan mereka, good practice!

Protes lain dari kami adalah soal signage. Memang gw dan isteri both rada bolor, tapi seharusnya papan nama usaha mereka bisa terlihat dan terbaca jelas hingga dari jarak seberang jalan, minimal. Sedangkan yang terjadi, baru setelah kami nyaris parkir di depan bangunannya, sambil rada-rada memicingkan mata, barulah nama tempat ini terbaca jelas! Sedangkan di lantai atas bangunan, ada signage yang jauh lebih mencolok; "Upstairs". Benar-benar kebanting.

Yang membahagiakan, adalah harga yang cukup reasonable. Satu porsi iga jumbo (50K), cukup untuk berdua, plus salad, plus side-dish, plus tiga minuman, cuma perlu ditukar selembar WR Soepratman Soekarno-Hatta dan selembar Otista.

Soo, mission accomplished, good result. (bay)

Q Smokehouse
Jl. Panglima Polim IX No.16
021 720 0671

100% Halal

Menyambung percabangan thread dari topik ini.

100% Halal

Banyak kita jumpai di pusat-pusat keramaian umum, restoran-restoran yang memasang tulisan "100% halal" sebagai embel-embel atas nama restorannya. Alternatif lain, adalah "Halal" saja tanpa kata "100%", namun varian pertama lebih banyak dipakai karena faktor bombastis nya.

Faktor bombastis...?

Secara kaidah bahasa dan hukum, "Halal" itu kalau tidak 100% ya bukan halal namanya! Yang berarti penambahan kata "100%" didepan "Halal" adalah sesuatu yang redundant -- hal yang gak perlu, dan cuma berfungsi sebagai hiperbolisme.

Namun terlepas dari kerancuan dalam pemilihan kata tersebut, yang perlu kita perhatikan lebih serius adalah klaim itu sendiri. Benarkah makanan yang dijual di tempat-tempat tersebut terjamin kehalalannya?

Tanpa bermaksud untuk berburuk sangka terhadap para penyedia jasa restoran, pertanyaan mendasar dalam hal ini adalah... "Seberapa kompeten kah para pengusaha restoran dalam menentukan masalah
kehalalan?". Ini yang perlu kita cermati bersama.

Halal dan Haram

Kehalalan suatu makanan adalah sarat utama dari laik atau tidaknya suatu makanan di konsumsi oleh kaum muslim (penganut agama Islam). Kata "Halal" berarti dibolehkan atau diperkenankan, sedangkan kata "Haram" berarti sebaliknya. Dan dalam penentuan halal-haram ini, diambil beberapa patokan yang bersumber dari kitab suci Islam Al-Qur'an, hadist-hadist shahih, dan pendapat para ulama.

Tanpa beranjak pada pembahasan mendetail mengenai halal-haram, jika kita kaitkan dengan kebiasaan hidup masyarakat modern yang banyak melibatkan kegiatan makan di tempat-tempat umum, maka masalah kehalalan ini menjadi suatu hal yang ambiguous. Jika kita bisa meneliti sendiri kehalalan dari makanan yang tersaji di rumah, maka tidak demikian halnya dengan makanan di tempat umum atau di restoran. Hal ini
menimbulkan masalah pada keduabelah pihak; kepada konsumen, apakah hidangan yang mereka santap terjamin kehalalannya? Dan dari sisi produsen, apakah klaim yang mereka buat memang bisa dipertanggung-jawabkan?

Sebenarnya buat seorang konsumen muslim, karena keterbatasan-keterbatasan teknis yang ada dalam hal makan di restoran, maka ia bisa menilai sendiri suatu masakan yang akan ia santap itu halal atau tidak berdasarkan informasi yang ia dapatkan mengenai makanan yang tersaji. Contohnya, kalau penjual menyatakan bahwa makanan yang akan ia santap tidak mengandung daging babi, mengandung hanya daging ayam, sayuran, nasi, serta makanan tersebut dihidangkan warung milik penduduk pribumi suku Betawi, maka besar kemungkinan makanan itu halal dan laik santap.

Sedangkan pada level pengusaha, untuk bisa mempertanggung-jawabkan klaim yang mereka buat, maka sebaiknya ada pihak yang berkompeten untuk menguji soal klaim kehalalan ini. Hal ini diperlukan karena sifatnya yang terkait dengan masyarakat luas, jadi memiliki tingkat urgensi yang lebih tinggi lagi. Pertama, dalam kebenaran dari klaim itu sendiri, dan kedua, dalam masalah hukum...

Barangkali masalah kehalalan ini melibatkan bahan-bahan makanan yang sulit dikenali kehalalannya secara fisik? Misalnya apakah dalam saus yang ia pakai ternyata ada bahan-bahan yang dinilai tidak halal? Semisal
Hoka-Hoka Bento yang tersandung MUI karena ada "saus misterius" yang dinilai mengandung khamar (minuman keras)? Atau kasus salahsatu produsen MSG bbrp tahun lalu yang dinyatakan haram karena ada unsur yang meragukan, padahal ia tidak memakai bahan2 yang langsung berasal dari hewan babi? Who knows...? Maka dari itu, kalau untuk level usaha yang melayani masyarakat luas, biasanya diperlukan bantuan pihak ketiga untuk menguji (dan memberikan konsultasi) soal kehalalan dari produk yang mereka pasarkan.

Self-Claim?

Kembali ke permasalahan diawal, lantas bagaimanakah kasusnya dengan restoran-restoran atau tempat makan yang mengklaim kehalalan menunya namun dilakukan atas dasar self-claim?

Dalam kasus ini, restoran2 yang memasang label "100% halal" tapi berdasar pada self-claim, sebenarnya mereka berada pada wilayah abu-abu...Di satu sisi mereka menunjukkan niat baik untuk menyediakan
makanan yang berstatus halal, namun di sisi lain mereka belum tentu memiliki ahli yang bisa menjamin klaim ini... Selain itu, mereka juga rentan terhadap tuntutan secara hukum kalau ternyata ada bahan2 tidak halal (yang diluar pengetahuan mereka) turut tercampur dalam makanan yang mereka jual. Maka dari itu pada beberapa kasus, restoran lebih suka memasang label "no pork" atau "tidak mengandung babi", karena hal
ini lebih bisa mereka pertanggung-jawabkan secara hukum dan moral. Sedangkan dari sisi konsumen, kalaupun si restoran memasang "100% halal" namun tanpa dukungan sertifikasi resmi, sebenarnya konsumen tetep berada pada kondisi "eat at your own risk". (bay)

Marinara

Rating:★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Seafood
Location:Sarinah, Thamrin, Jakarta
Restoran buffet hidangan seafood ini terletak cukup tersembunyi di lokasi gedung Sarinah Thamrin, sehingga kurang terperhatikan. Untungnya ia berada berdekatan dengan Baso Malang Karapitan (BMK), dan Manchester United Cafe (Bekas Hard Rock Cafe) sehingga lalulintas orang lewat cukup ramai.

Kualitas makanan sedang, dimana kepiting nya udah nggak terlalu fresh, sementara rasa makanannya sih cukup baik. Walau variasi makanan sedikit, tapi harganya sangat terjangkau (35K ++), dan gw pribadi cukup puas bolak-balik hanya buat menikmati kepiting dan bakso2an ala steamboat.

Suasana resto agak menyedihkan, muram dan sepi, walaupun yang makan kelihatannya selalu ada. Hiburan yang ada, adalah monyetarium (akuarium isi monyet) yang ada di salahsatu sisi restoran... Yang setelah dipikir rada lama... sebenernya bukan hiburan juga karena gw jadi ngerasa kasian sama hewan-hewan ini yang harus dikurung di tempat sedemikian rupa, tanpa lingkungan hidup yang layak.

(Ngapain juga ada monyet di resto seafood?)

Selain dari hidangan seafood dan sayur2an, terdapat ayam panggang dan spaghetti bolognaise juga... Cuma sayangnya saus daging cincangnya anyir sekali sehingga gw gak berani makan... Selain dari makanan utama tersebut, terdapat juga salad dan crab soup, dessert, buah2an, dan aneka macam soft drink dan kopi2an yang bisa kita ganyang sepuasnya.

On overall, untuk kelas buffet rasa makanan lebih mantap dibandingin Hartz Chicken, walaupun suasana lebih gloomy dan pilihan lebih sedikit.

Saran: Pasang beberapa TV untuk hiburan, dan bebaskan para monyet!

Pros: Harga, Rasa Makanan.
Cons: Suasana, Monyet.

Chilis


Rating:★★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Mexican
Location:Sarinah, Thamrin, Jakarta
Sebenernya dari dulu gw dah pengen nyobain tempat ini, sayangnya, dulu lon punya pacar yang bisa diseret-seret nemenin yayangnya ini hunting makanan. Dan ketika akhirnya dapet (pacar), udah keburu banyak restoran lain yang lebih baru dan lebih "happening" yang muncul, jadinya Chilis terlupakan dari agenda jajal restoran.

Setelah berkenalan dengan Multiply, ternyata resto ini adalah salahsatu tempat favoritnya Agung. Menurutnya, di tempat ini kita bisa dapet bottomless drink sambil nyobain makanan-makanan Mexican/Texan style... dan memang bener... ada menu minuman semacem ini disini.

Tempat yang sudah berdiri sejak entah kapan ini, memiliki dua wing ruangan; area restoran untuk makan dengan nyaman, serta area bar yang dilengkapi dengan meja billiard.

Suasana tempatnya cosy, dan warm. Walaupun dekorasi yang dipakai adalah rata-rata dari jaman kuda gigit besi, tapi nggak ada kesan tua disini, beda sama lingkungan sekitar (bangunan Sarinah) yang keliatan dah ringkih dan terbatuk-batuk. Lighting cukup temaram, mendukung ambience yang santai dan relaxed, sesuai dengan tema tempat ini sebagai getaway spot bagi sebagian penduduk metropolitan.

Pertama agak kaget ngeliat harga-harganya, karena range yang dipakai adalah cukup tinggi (steak 100K+), sementara gw belon tau porsi dan kualitasnya. So, buat amannya, kami mesen menu rekomendasi Agung yang dah terbukti sukses; Fajitas Nachos. Kalau ternyata oke, mungkin nyoba yang lainnya. Selain itu, yayangku mesen Cheese Cake dan Choco Shake (nama benernya lupa).

Dalam waktu cukup cepat, hidangan kami pun tersaji. Fajitas Nachos ukuran besar (57K - Chicken) yang kami pesan ternyata memang bukan basa-basi... porsinya cukup membuat keder...

Satu piring besar yang berisi 12 potong nachos mirip pizza ini memiliki rasa keju yang cukup kental, nachos yang padat, saus yang gurih, dengan sesekali diselingi gigitan tabasco yang masam pedas. Hey?! Ternyata enak juga... Makannya sih bisa dicocol sambal, atau diolesi sour cream dan salsa yang hadir bersama hidangan ini.

Setelah masing-masing menghabiskan empat potong Fajita Nachos, perhatian kami alihkan ke Cheese Cake yang telah menunggu. Dengan saus berwarna oranye kemerahan, kami sangka chef di tempat ini cukup sableng menyajikan cake dengan sambal ABC... Baru ketahuan setelah dicolek, kalau saus yang dimaksud adalah saus strawberry yang terasa fresh. Cheese Cake nya sendiri? Good... Cheesy (in a good way), tapi nggak terlalu gurih dan terlalu manis, jadi cukup bersahabat dengan lidah dan perut.

Choco Shake nya juga enak (19K), walau sayang, toppingnya cuman coklat meses... Padahal di kios juice dekat kost saya saja toppingnya sudah lebih canggih...

Sedangkan Guava Juice nya (17.5K) kami duga berasal dari juice botolan, dengan konsentrasi yang lebih encer lagi... .

Terakhir, dengan perut yang sudah cukup padat, kami nekad memesan Chili... Sayang kan kalau kesini gak mesen signature menu nya? Tadinya sih mau nyobain steak nya... tapi gak kuat perutnya.

Chili ditempat ini menurut Agung adalah yang ter-enak se-Asia Pasifik! He he he. Untung saja kami tahu diri dan memesan dalam ukuran kecil, karena kalau tidak tentu bertambah lagi bungkusan left over untuk dibawa pulang.

Hadir dalam mangkuk kecil, Cup Chili (17K) ini menyimpan potensi yang cukup besar... Secara harafiah, rasanya mirip sekali dengan saus bolognaise untuk spaghetti; daging cincang yang gurih, berpadu dengan pure tomat yang tajam menusuk... Sayangnya saya salah baca menu sehingga menduga kalau selain dari cacahan daging, menu ini memiliki juga kacang merah sebagai penyeimbangnya... mirip seperti di film-film Cowboy tempo doeloe lah... Tapi diluar masalah ini, the Chili is good...

Rata-rata pesanan kami malam itu layak dapet B+, kecuali untuk Cheese Cake (B), dan Guava Juice (C). On overall, eating experience di tempat ini cukup baik; makanan enak, suasana nyaman dan tidak membosankan. Sedangkan servis yang biasa-biasa saja dengan gaya yang cukup cuek (tapi attentive), lagu2 yang diputar yang rada gak nyambung, mesin kartu kredit bermasalah (mungkin temporer), dan faktor harga, membuat nilai Chili jatuh pada kisaran 3 1/2 bintang.

Pros: Food, Eating Experience.
Cons: Price, Service.

Photos: http://epicurina.multiply.com/photos/album/20

Lang Viet

Rating:★★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:Wijaya Centre, Jaksel
Lang Viet adalah salahsatu restoran masakan Vietnam yang dimuat dalam majalah Jakarta Java Kini dan mendapat review cukup bagus. Beberapa waktu lalu restoran ini sempat gw kunjungi bersama teman untuk membuktikan langsung kualitas dari masakan disini.

Now, gw gak ahli soal makanan Vietnam, tapi gw ngerasa cukup pede dalam menilai suatu makanan enak atau nggak =). Hidangan Vietnam terakhir yang gw santap agaknya adalah lumpia isi so'un di salahsatu restoran waralaba lokal. Sebelumnya, gw termasuk orang yang menghindar kalau ada acara makan-makan di Pho Hoa, kecuali kalau ditraktir. Rasa mie Pho Hoa menurut saya terlalu hambar dan mirip dengan mie kocok yang notabene bisa didapat dengan harga jauh lebih murah.

Untuk Lang Viet, gw gak menduga kalau lokasinya ternyata ada didalam kompleks pertokoan Wijaya Centre yang banyak panti pijatnya itu. Awalnya sempat curiga kalau restoran ini pun adalah tempat yang agak-agak "demikian". Namun image ini sirna ketika memasuki ruangan lantai dasar Lang Viet yang cerah dan tertata baik. Pramusajinya mengenakan seragam, dan suasana interiornya terasa hangat. Saat kami datang, ada sepasang expat dan beberapa orang ibu-ibu berwajah India sedang asik makan dan berbincang. Di lantai atas yang memiliki setting mirip, ternyata sedang ada acara khusus sehingga tertutup untuk umum.

Interior ruangan cukup sederhana dengan nuansa alamiah dan hiasan ornamen-ornamen khas dari Vietnam, plus lukisan yang banyak menggambarkan kehidupan agraris masyarakat sana.

Menu hadir dalam bentuk yang unik, dibentuk menyerupai daun dengan sepotong bambu sebagai pengikat di bagian atas menu. Hidangan yang ditawarkan cukup komplit, mulai dari aneka ragam salad, appetizer, kue-kue asin, hidangan utama, dessert, hingga minuman ringan dan berat. Mereka menyajikan juga beberapa macam wine, selain dari minuman-minuman tradisional.

Kalau tak salah, saya melihat ada kopi vietnam disini... Namun karena bukan peminum kopi, sayapun memilih satu jenis minuman khas lain; Salted Lemonade yang menurut pramusaji yang bertugas, memiliki rasa mirip nano-nano.

Image Hosted by ImageShack.usUntuk hidangan pembuka dipilih salad Jeruk Bali (Pomelo with Shrimp - 16K something), dilanjutkan dengan tiga macam kue asin (15K something). Untuk hidangan utamanya saya milih Sup Ikan Asam Manis (Sour and Sweet Fish Soup - 26K something), teman saya memilih Sate Sapi dengan lima macam bumbu (lupa - 28K something). Sedangkan untuk penutup, sorbet dengan rasa mangga dan strawberry (15K something-each).

Salad Jeruk Bali nya gorgeous! Jeruk Balinya seger manis, dipadu dengan irisan udang rebus yang juga gurih, plus dressing saus encer agak spicy. Dari penampilan menarik, rasanya apalagi. Yang agak kurang, saus dressingnya kurang banyak, jadi kurang terasa kalau sekedar dicocol, harus disiram.

Tiga macam kuenya hadir dalam format sama; tepung beras, plus cacahan udang dicampur kelapa bumbu kuning. Ada yang disajikan mirip kue talam; kuenya asin pejal, ada juga yang disajikan dalam bungkus daun pisang; lebih lembek dari segi tekstur, dan lebih dingin rasanya dibanding yang pertama tadi. Ada juga yang sama-sama dibungkus daun pisang, namun dibentuk mirip moci; cacahan udangnya diletakkan di bagian dalam kue, dengan kulit kue yang bening dan lengket. Semuanya enak.

Sup Ikan asam manisnya juga segar, mungkin karena paduan dari daun ketumbarnya. Yang agak unik, kuah sup ini awalnya terasa seperti rasa logam (dingin khas, macem Pocari Sweat, tapi minus manisnya), namun diujung belakang lidah berubah menjadi rasa asam segar. Sup berbahan baku ikan kakap ini disajikan dengan aneka macam sayuran. Dari segi rasa, tak terlalu nendang, tapi still okay.

Sate Sapi nya berasa mirip sate marangi (Cikampek?), tapi minus rasa kecap manisnya, karena yang ini terasa lebih kering dan lebih asin. Dagingnya sendiri kelihatannya dicincang namun tidak terlalu halus, atau disayat-sayat karena masih terasa teksturnya.

Sebagai penutup, sorbet mangga nya enak banget. Paduan rasa manisnya dan rasa mangga nya emang pas, beda halnya dengan sorbet strawberry nya yang agak cemplang, terlalu manis dan kurang terasa rasa buahnya.

Salted Lemonadenya? Mirip dengan sirup Kiamboi dari Medan tapi kurang gurih, cuma segar dan asem manis.

Untuk enam macem menu itu, kita tuker ama uang 160 rb-an.

Selain dari menu-menu ini, banyak terdapat menu lain yang umumnya menggunakan bihun dan soun, bukan nasi. Menu-menunya juga banyak yang keliatan menarik. Bagi anda yang gemar mie kuah ala Pho Hoa juga ada disini koq. Dari segi rasa, secara keseluruhan gw bilang cukup menggigit, very worth to try.

Reccomended? Yes! (bay)

Bistro Jakarta - Review

Rating:★★★
Category:Restaurants
Cuisine: French
Location:Plaza Senayan, Jakarta
Waktu klub nulis gw suka meeting disini (2004), mereka punya satu sisi ruangan yang terpisah, dimana didalemnya bisa jadi conference room (atau ngapain keq terserah). Kenapa bisa gitu? Soalnya dari luar kedalem gelap, sementara dari dalem kita bisa puas ngeliatin orang laen (stalking? he he), atau ngetawain temen sendiri yang nyasar celingukan nyari ini ruangan.

Menu hidangan utama adalah menu-menu grills nya. Boss gw yang kl ga salah mantan restauranter bilang kl menu spesial disini adalah Sop Buntut (!), dan Creme Brulee. Creme Brulee ini adalah dessert sejenis Sarikaya tapi dipanggang dan nuansa rasanya karamel.

Grill nya cukup enak-enak, rada sukses gitu lho, untuk harga yang sedeng (40K up). Disini juga ada escargot yang hadir 12 pieces dengan tampilan yang sopan, nggak pake cangkang lagi.

Denger-denger tempat ini langganan beberapa artis juga, tapi emang beberapa kali kesana ada muka-muka familiar, ngobrol sama rekannya yang bawa laptop (rata-rata). So mungkin mereka lagi ngebahas game Solitaire nya Windows, atau gimana cara ngerubah registry Windows XP.....

Eh ga mungkin banget ya?

The Olive Tree Jakarta - Review

Rating:★★★
Category:Restaurants
Cuisine: International
Location:Nikko Hotel, Jakarta

Di restoran ini terdapat dua pilihan menu; ala carte, dan buffet. Rekan kantor, Faida suggest kita ngambil yang buffet karena ada menu favorit dia; Oyster (tiram). A ha! Lagi-lagi perkenalan pertama saya sama makanan baru...

Sebelumnya saya dah banyak baca kalau udah doyan makanan satu ini, orang bisa jadi kecanduan... but well... harus dicoba dulu kan?

Saudara dekat kerang ijo ini semalem hadir dalam ukuran yang tidak terlalu besar, per cangkang nya kira-kira berukuran 1/4 - 1/3 telapak tangan remaja (tangan saya =D). Soal kesegaran, tentu saja tidak fresh from the sea, karena sebagaimana udang dan kerang hijau yang hadir juga malam itu, mereka sudah nginap beberapa waktu di freezer.

Soal rasanya... cukup anyir... kebetulan seruputan pertama atas moluska ini saya lakukan plain, tanpa jeruk, tanpa tabasco, biar tahu dulu rasa aslinya gimana. Selain anyir, ada rasa asin yang cukup kentara, dan lalu sedikit rasa gurih yang khas, mirip dengan rasa gurih kerang darah rebus. It's okay... saya belum nemu reason buat jadi ketagihan, dan keliatannya masih perlu waktu untuk bisa acquire the taste to really enjoy it. Tapi perkenalan pertama ini... yah, it's okay... yang pasti saya ngerasa lebih seger pagi udahnya =)

Hidangan lainnya, selain tiga macam seafood tadi, salad seafood nya enak, salad ayam nya juga, lalu ada cheese platter dengan tiga macam keju; muda (lembek, lembut), sedang, dan tua (agak keras), braised beef with black pepper sauce, nasi goreng dan aneka rekannya: asinan, kwetiau goreng (dimasak by order), dan shabu-shabu (dimasak by order juga), untuk dessert ada aneka ragam buah potong, kue2an termasuk Creme Brulee, es krim, dan sagu melon.

Buffet ini dihargai Rp 109.000 ++, belum termasuk minuman. Menu-menu ala carte sekilas saya lihat berkisar antara 30K - 90K. Dari segi rasa; quite good, quality; quite good, pilihan; kurang. Reccomended buat Oyster lover, walau harus rela nunggu lama buat plate nya di refill =)

Ayam Goreng Pemuda Jakarta - Review

Rating:★★
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:Jl. Surabaya, Jakarta
Waktu itu mampir ke Ayam Goreng Pemuda di jalan Surabaya, abis nengok boss yang sakit di RS Cikini. Di jalan kita ngelewatin RS Oasis yang ngetop sama Rijstaffel nya, trus Warung Podjok, dan sempet juga kepikiran mau belok ke Megaria buat Ayam Bakarnya, tapi lupa... ingetnya cuma ada Chinese Food doang.

Ayam Pemuda agak sulit parkirnya, paling mungkin ya di jajaran penjual barang2 antik, karena parkir dalem cuma muat empat mobilan. Tempat duduknya sendiri banyak dan sistem share meja. Nggak ada AC, cuma Angin Cuek ama kipas2 gede di langit-langit, jadi siap2 kepanasan.

Hidangan cuma berkisar antara ayam2an (paha, dada, kepala, ati ampela, dll.) tanpa ada variasi yang rada unik, bahkan tempe-tahu aja nggak ada. Lalab sama sambal mesen terpisah, dua menu spesial kayaknya cuma Udang dan Cumi (15K).

Ayamnya sendiri terlihat cukup memprihatinkan... kelihatannya ayam kampung dan masih balita. Bumbunya sih oke, meresap dan cukup memuaskan lah, walau nggak istimewa juga. Tekstur dagingnya empuk padat, digoreng kering sampai beberapa bagian tulangnya pun bisa dikunyah lembut. Sebagai teman standar dari ayam ini adalah sepiring kecil sambel kecap dicampur irisan bawang merah segar dengan porsi yang cukup. Sedangkan di piring nasi teman makannya ialah sepotong mentimun mentah tanpa biji, dan seiris jeruk nipis.... Kenapa gitu ya?

Sayur Asem nya sih oke, cukup enak dan "ledok". Waktu servis lumayan cepat, cuma porsi ayamnya itu yang ngga nahan, imut...

Bebek Jawa Bandung - Review

Rating:★★
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:Jl. Jawa, Bandung
Akhirnya waktu ke Bandung kemaren me and fam sempet nyobain "Bebek Jawa", yang beralamat (tentu saja) di Jl. Jawa, tepatnya di seberang SMPN 5 Bdg.

Dari cara penyajian, bebek ini disajikan ala "pecel", yang maksudnya sebagaimana biasanya disajikan di warung2 pecel lele di seantero Bandung dan Jakarta.

Rasanya cukup enak, dan cukup empuk. Bebeknya digoreng di minyak jelantah yang sudah menghitam, dan disajikan dengan sambel yang manis pedas gurih, yang kelihatannya jadi andalan dari warung ini.

Harga untuk makan malam itu adalah 14 ribu rupiah, untuk tiga potong bebek, dua porsi nasi putih, plus satu teh botol.

Cukup memuaskan, namun untuk perbandingan, saya dan adik merasa kalau bebek goreng dekat kost dia di Jl. Cemara masih lebih enak! Daging bebeknya lebih empuk, bumbu lebih meresap, dan sambelnya pun sama2 oke.

Plus kadang suka ada jeroan bebek (ati ampela, usus), yang rasanya cukup menarik juga.

Ada yang mau nyoba?

Empal Gentong Lapangan Ros Jakarta - Review

Rating:★★
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:Lapangan Ros, Tebet, Jakarta
Lokasinya deket rel kereta api Tebet dari arah Saharjo, pas didepan SPBU. Kalo dan ngeliat resto Wong Solo, siap2 menepi... Tempatnya kecil, cukup nyempil, tapi cukup rapi dan bersih juga.

Menu untuk saat ini cuma ada Empal Gentong. Seporsinya delapan rebu rupiah udah termasuk nasi. Secara umum... cukup enak. Kuah santan kuningnya cukup mantap, walau nuansa msg nya juga cukup kenceng. Kalau secara komparatif... blank... ini Empal Gentong pertama yang saya makan secara "conscious", karena biasanya kalau nemu EG di pesta2, it came and go coment-less ly.

Daging2nya empuk dan ngga sulit buat dikunyah. Porsi sedeng; semangkuk EG di tempat ini isinya daging dan babat putih dengan jumlah yang lumayan. Cukup kenyang untuk perut normal, sedangkan untuk pejajan kelas berat keliatannya bakalan butuh lebih dari satu mangkuk.

Buat yang veteran Empal Gentong, ada rekomendasi tempat laen?

Atmosphere Bandung - Review 2005

Rating:★★★★
Category:Restaurants
Cuisine: International
Location:Lengkong Besar, Bandung

Kali pertama kunjungan saya ke tempat ini ialah beberapa tahun lalu. Dulu untuk mencari tempat pun susah, disana-sini penuh. Kunjungan pertama ini berhasil menyimpulkan bahwa tempat ini memang asik nuansanya, namun makanannya so-so. Beberapa menu lokal yang teman-teman saya coba rata-rata dinilai gagal, entah dari segi correctness, maupun dari segi kenikmatan. Tapi satu hal juga yang saya catat waktu itu, harga-harganya cukup reasonable.

Malam itu di Bandung saya sempat tanya-tanya sama rekan food hunter saya Adi, dan beberapa rekan untuk rekomendasi tempat makan malam di Bandung. Namun karena rata-rata tempat yang disarankan berada jauh dan sulit untuk ditempuh dengan angkutan umum, maka saya memutuskan untuk menjamu "€œtamu-tamu"€ saya ke tempat ini sekalian untuk revisit, barangkali sudah ada perubahan significant sejak kunjungan pertama saya dua tahun lalu.

Diiringi hujan gerimis yang tak hentinya mengguyur Bandung semenjak sore hari, saya lalu mengajak dua tamu saya; Ade, dan adik saya Dea untuk menuju lokasi Atmosphere di Jl. Lengkong. Kebetulan juga adik saya ini walaupun adalah penduduk asli Bandung namun belum pernah menginjakkan kakinya di tempat yang sempat ngetop (for good and bad) ini.

Malam itu suasana lengang, hanya sedikit saja mobil diparkir di halaman, menunjukkan jumlah pengunjung yang masih sedikit. Hal ini terjadi agaknya karena suasana libur Lebaran masih berpengaruh, dan orang-orang masih malas untuk keluar rumah setelah mudik, apalagi ini adalah malam pertama dihari mereka kembali masuk kerja.

Dari segi suasana terlihat belum ada perubahan, kecuali adanya patung pria berpakaian arab yang agaknya dipajang disana untuk mengentalkan nuansa Idul Fitri, walaupun sebenarnya malah terlihat janggal, karena hari raya Lebaran ini bukanlah mengenai Arab, atau mengenai padang pasir.

Sementara dua tamu saya masih celingukan dan terkagum-kagum, saya langsung menuju halaman belakang bangunan, dimana terdapat saung-saung lesehan diatas kolam, untuk makan sambil duduk bersila atau selonjoran.

Pernah ada selentingan buruk mengenai tempat ini dan saungnya, saat seorang pengunjung yang tidak puas menulis di harian Pikiran Rakyat karena merasa Atmosphere pilih kasih dengan membatasi penggunaan saung hanya untuk pengunjung dengan jumlah besar saja. Namun malam itu agaknya aturan itu sedang tidak berlaku, karena kami bertiga diperkenankan untuk memakai satu saung besar berkapasitas delapan hingga duabelas orang itu.

Dalam kunjungan kedua ini baru ketahuan kalau ternyata menu andalannya adalah steaks, dengan menu favorit yaitu Beef Steak Washington. Dari beragam pilihan yang ada, kita memilih tiga macam steak; Beef Steak Washington (32.5K), Entreconte Mont Blanc (35K), dan American Mixed Grills (37.5K). Masing-masing steak berbeda dari jenis saus yang dipakai; BSW memakai saus jamur, EMB memakai saus yang rasanya cenderung mirip bumbu sate, sementara AMG dengan saus BBQ yang asam manis. Untuk appetizernya kita nyoba Fried Calamary (14.5K), dan Seafood Chowder (7.5K). Sedangkan untuk dessertnya Ade penasaran ama Tiramisu (14K), dan saya penasaran pengen bandingin Creme Brulee nya (13K), sama punyanya Bistro PS. Dari tiga pilihan rasa, kita milih yang rasa Espresso.

Ade dan Dea memilih steaknya untuk dimasak well-done, walau telah saya wanti-wanti berulang kali untuk memilih paling tidak medium-well untuk bisa mengapresiasi "€œtrue taste"€ dari daging steak nya. Saya sendiri memilih steak saya untuk dimasak medium, tidak medium-rare, karena khawatir sama kualitas daging yang dipakai, apalagi kami semua memilih variant daging lokal. Mengenai pilihan saya, sebenarnya saya nggak terlalu suka saus BBQ, namun karena terdapat empat macam daging dalam menu ini (beef, lamb, chicken, sausage), maka saya nggak keberatan buat sedikit berkorban.

Sambil menunggu pesanan datang, kami tiduran dengan nyaman di lantai kayu yang luas itu, sambil ditemani udara Bandung yang dingin. Di bagian sisi saung ternyata terdapat penahan kayu untuk mencegah bantal terjun bebas ke kolam, jadi jangan khawatir untuk bersandar. Minuman pesanan kami lalu datang tak lama kemudian. Mungkin karena malam itu pengunjung sedang sedikit maka suasananya tenang dan pelayanannya lebih memuaskan?

Setelah lewat beberapa seruput teh Twinnings dalam tiga variasi (Peppermint, Earl Grey, dan English Breakfast), pramusaji lalu hadir membawa makanan pembuka.

Calamary hadir dengan saus tartar yang gurih creamy, dengan porsi yang agak ngirit (7 pieces), sedangkan Seafood Chowder nya hadir dalam porsi standar, kurang lebih sebesar porsi sup nya Pizza Hut. Dari segi rasa, Seafood Chowder ini mengingatkan pada masa silam di Bandung saat Gelael Dago masih menyajikan krim sup dan hot dog berkualitas tinggi, rasanya mirip. Ade yang agak spesifik dalam hal selera makan kelihatannya tidak bermasalah dengan sup ini, berbeda dengan saat dia mencoba Shrimp Bisque nya Ya Udah yang cenderung masuk kategori Hard Core.

Saat sendok dan tangan masih sibuk berseliweran kesana kemari, makanan utamanya datang. Ketiga steak nya tampil cukup menarik, Ade mengganti mashed potato dari BSW nya dengan french fries, biar kompak dengan EMB nya Dea. Saya sendiri ngebiarin AMGnya hadir dengan Potato Wedges, goreng kentang bersalut tepung gurih. Porsi steak nya cukup besar, nggak tau berapa gram, namun mengenyangkan untuk kapasitas perut normal. Daging yang dipakai kualitasnya cukup baik, dimasak dengan cukup benar, saus-saus nya juga cukup memuaskan, full-bodied dan cukup rich.

Ketika tiba waktunya untuk dessert, Tiramisu hadir dalam porsi sedang-kecil, begitu juga dengan Crème Brulee nya. Tiramisu nya terasa kurang nendang, lebih mirip coffee cake karena kurang creamy, sedangkan Crème Brulee nya cukup enak, walau hidangan yang menurut saya masih sekeluarga dengan Sarikaya ini masih kalah kualitas dengan punyanya Bistro PS.

Kelihatannya kunjungan kedua ini berbuah baik, karena saya jadi berpandangan lain terhadap tempat ini. Suasana masih tetap menjadi daya tarik utama, namun didukung juga dengan makanan berkualitas cukup baik dan enjoyable, dengan harga yang cukup murah. Walaupun pramusaji kami lupa untuk mengulang pesanan kami diakhir pemesanan, servis secara keseluruhan terasa lebih responsive, semoga saja bukan semata-mata karena sedang sepi pengunjung...

Saya nggak tahu apa Chef nya sudah ganti dan lebih skillful dalam mengolah makanan lokal, namun mengingat pengalaman terdahulu yang gagal total dari segi rasa, maka saya masih nggak berani buat mesan menu hidangan lokal disini. Buat amannya, stick to the steaks!

Appearances