Showing posts with label noodle. Show all posts

What is Mie Kocok Bandung?

Mie Kocok is a dish popular in Bandung, Jawa Barat, that has big similarity with Vietnamese Pho in term of style and taste. Consisting of yellow egg noodle, bean sprouts, kikil, and dressed with finely chopped celery and fried sliced shallots; it's a clear noodle soup which tend to have simplistic taste spectrum. What makes it different with other kind of noodles soup is the use of beef broth instead of chicken, and inclusion of kikil (chewy gelatinous part of cow's feet) as the topping.

"Mie Kocok" literally mean "shaken noodle", the term comes from the movement the cook made by shaking the perforated ladle filled with noodles and bean sprouts into the hot water to blanch it; as the noodle is already half-cooked when stored.

One place I know sells Mie Kocok and has been around for very long while is one at Jalan Sunda, Bandung. It's at the right side of the street by the small bridge, near by the intersection with Jalan Veteran -- it's a one way street so don't worry about whether it's mine or your's right; there's only one right side in this case ;-)

A quite famous vendor that sells Mie Kocok Bandung nowadays, is "Mie Kocok Mang Dedeng" at Jalan Ahmad Dahlan, near the Lingkar Selatan ring road, southern Bandung. Find more about Bandung's interesting culinary destination at Bandung's Legendary Eateries list on Foursquare. (bay)

p.s.: you can view more (and better) photos of Mie Kocok Bandung including its preparation at Selby's blog here.

Image pictured here is from Infobandung.

Mie Kepiting Aceh


Mie Kepiting Aceh Razali, originally uploaded by bayuamus.
Aceh is the northern most province of Indonesia. It is also a stage of harsh military conflicts for many years. Beside of that and Tsunami disaster, Aceh was also known as the major region which supplies Ganja to Indonesian drug market. If you're unfamiliar with this term, it's the other name of Marijuana.

One of the main reason why Aceh is famous with this particular reputation, perhaps was due to its culinary culture. Rumors has it that back in the old times, Acehnese doesn't treat ganja as drugs, but as common ingredients in the traditional Acehnese food as an appetite arouser! Hence why then, it's been a sacred journey for some, to discover the genuine Acehnese food in hope to encounter the said special ingredients in their meal.

But beside of the rumors, Aceh do have some interesting culinary culture to begin with. Though perhaps less famous than the neighboring Padang cuisine, but it does has its on merit.

In general, Aceh cuisine very much resembles all the same cuisine from the Malay region; Aceh, Medan, Padang, Riau, and so on. One of its main characteristic is the dominant role of coconut milk in the dishes, and the fondness of having curry-like dishes or curry flavored cookings. Other strong influence on Aceh food is the Arabic influence; this was due to the alternative name of the province itself which is "Serambi Mekkah"; or "front yard of Mecca", the holiest city of Islam. A legacy from the early days of trade route opening between ancient Indonesia and Persian merchants.

One of the notable Acehnese cuisine that spreads wide in this modern age, is the Mie Goreng Aceh; fried noodles a la Aceh, and it's unique in many ways; first, Malay cooking rarely involves noodle, since their main staple food is rice. Second, they're using this special mixture of herbs to create the pungent and spicy taste which resembles more towards Indian food than Malay food, and third, it's most preferred protein ingredients is crab; a whole crab!

Food Note: Mie Ayam



Mie Ayam is Indonesian take on Chicken Noodle, there are generally two versions available: Chinese, and localized.

Localized version as pictured above, usually consist of minced chicken meat in heavy brown stock, in contrast to the Chinese version that offers steamed chicken cuts. With the Bangka version, the chicken is first grounded with seasoning before cooked, creating the appearance of tiny coarse meatballs. From street hawkers it is a convention to serve Mie Ayam with the bright orangish sauce that's both notorious and loved. More decent eateries often offers more civilized (and health safe assured), kind of sauces, which more than often serves as the eateries' unique point of selling.

Mie Ayam usually serves with bakso (meatballs), and pangsit goreng (fried wonton). More fancier version includes also pangsit rebus (wonton soup), tahu (soybean cake), and common in Eastern Java: hard boiled egg.

Expect to pay around 6K from the street peddlers, 10K from more established places, and up to 15 or 20K for the restaurant version Chinese style mie ayam. (bay)

Food Note: Mie Ayam Beuleudag, Ciateul, Bandung

Waktu pulang nengok ortu di Cikajang, deket kost-an si adik ternyata ada warung mie ayam baru. Walaupun dah buka puasa, tapi karena penasaran jadinya ya dicoba juga, secara gw nggak bisa nggak kalau soal Mie Ayam sih.

Tendanya sepi, cuma ada dua orang yang ternyata adalah pengelola warung mie ayam tersebut. Gw mesen satu porsi, mereka nggak nanya soal kelengkapan jadi gw assume secara defaultnya adalah menu komplit.

Nggak berapa lama kemudian satu mangkuk mie ayampun siap. Porsinya terlihat mungil, dan berhubung gw makannya di mobil bersama isteri dan adik yang males turun, jadinya rada-rada kurang jelas tampilan visualnya gimana, tapi dari yang terperhatikan sih mienya bukan jenis mie keriting ataupun mie tepung yang biasa dipakai di mie ayam jenis lokal, jadi lebih mirip ke mienya jenis chinese. Sebagai topping, cacahan daging ayam cukupan, sekeping pangsit goreng, sebiji pangsit kuah, dan dua butir bakso yang seperti bakso urat.

Sewaktu mulai dicoba, ternyata mienya lumayan lembut dan kenyal, minus rasa-rasa tepung yang biasanya ada di mie2 ayam lokal yang gw kurang suka. Karakter rasa cacahan ayamnya sendiri cukup diluar dugaan; mantep! Ditambah sama gurihnya bumbu-bumbu pada mienya, total jendral rasanya jadi nendang banget! Dan 80%nya daging beneran, bukan kulit ataupun tulang. Apalagi ternyata si pangsit gorengnya kriuk sekali, dan bakso urat yang disertakan pun not bad at all, dan bukan murni bakso urat cuma sekedar daging bertekstur agak kasar. Sedangkan pangsit kuahnya... mengejutkan juga! Dagingnya relatif banyak dan gurih! Bukan sekedar lembaran kosong pangsit atau diisi daging tapi sarat doang. Dan gwpun jadinya seperti dapet pencerahan... kayaknya ini the best mie ayam so far selama pengembaraan gw selama setengah taun ini di Bandung deh! Langsung aja hatipun girang karena ngerasa udah nemu tempat mie ayam favorit baru...

Bumbu yang rada custom, bakso yang sepertinya buatan sendiri, dan jenis mie yang juga beda, menunjukkan kalau warung Mie Ayam Beuleudag ini cukup serius memperhatikan kualitas dagangannya, diulik gitu lho.

Kalau dibandingkan, memang masih belum bisa mengambil alih ranking #1 di list gw, yaitu Mie Ayam Yunus (Tebet, Jakarta), tapi tipisss saja kurangnya; porsi disini agak sedikit kalah, juga karakter rasanya lebih tinggi kadar manisnya dan lebih soft dibandingin Mie Ayam Yunus. Baksonya juga kalah kelas, tapi yang Mie Ayam Beuleudag ini juga salah kalau dibilang nggak enak, yaa beda tapi tetep enak juga lah.

Dari segi harga, semangkuk komplit Mie Ayam Beuluedag ini harganya cuma 8K! Wah, pas di lidah pas di kantong ternyata.

Si masnya sendiri waktu sedikit diwawancara bilang kalau mereka baru buka disana dua bulanan (Juli 09), buka biasanya dari siang sampai malem, kecuali saat selama bulan puasa buka baru dari pukul 5 sore.

Very recommended! (bay)

Food Note: Mie Ayam Wonogiri, Terusan Sutami, Bandung

Sejak awal scouting daerah sini, sebenernya udah tertarik buat mampir, namun apa daya situasinya selalu nggak pas. Kebetulan beberapa waktu lalu perlu ngurangin isi tabungan di ATM deket sini, pulangnya ya sekalian aja makan siang.

Walaupun lantainya masih semi-tanah, dan posisinya disebelah selokan, tapi on overall kebersihan terjaga. Di depan warung dia biasanya bercokol warung nasi gudeg. Believe it or not, populasi warung nasi gudeg di Bandung ini relatif cukup tinggi, dibandingkan Jakarta apalagi. Rata-rata warung tidak permanen di sisi jalan yang lumayan ramai.

Balik ke warung mie ayam ini, pilihan menunya ada empat; terbagi atas dengan / tanpa baso, dan porsi normal / jumbo. Menarik. Sayapun memesan porsi jumbo (9K) supaya puas!

Pesanan datang tak lama kemudian. Ternyata status jumbo yang ditawarkan tidak basa-basi, dan sayapun mulai ragu apa kalau dihabiskan nggak bikin ngantuk nantinya di kantor? Ah ya su...

Tekstur mie agak keras dengan aroma terigu yang kuat, khas mie ayam gerobak. Tapi karakter rasanya mirip yamin mie ala chinese food. Toppingnya cukup lumayan melimpah dan isinya beneran ayam, bukan daging olahan kedelai yang banyak dipakai di mie ayam gerobak di Jakarta. Mungkin untuk menjaga keotentikan rasa, sambal yang dipakai tetap sambal "pasar", namun dari jenis yang branded sehingga masalah higienis dan kesehatan lebih terjamin (barangkali). Merknya "Sambal Sari Sedap", warnanya nggak se-oranye sambal pasar yang biasa dijual di pasar (tentunya) atau abang-abang keliling dalam jerigen. Rasanya? sinful pleasure! Enak euy! Masih setingkat lebih enak daripada sambel pasar biasa yang misterius itu.

Menemani mie ayam, kualitas baksonya lumayan, cukup crunchy walau rasa dagingnya kurang nendang. not bad lah buat kelas pinggir jalan. Hal yang juga menarik di tempat ini, adalah tersedianya aneka gorengan untuk menemani makan mie. Jadi inget kebiasaan masa sekolah dulu, abis pesanan mie ayam siap, nggak langsung santap tapi beranjak ke gerobak bakso malang dulu buat nambah "topping" mie ayamnya, biasanya nambah tahu sama baso kecil2 yang rasanya terigu vetsin doang. Luxurious lunch dimasa itu.

Kesimpulannya, walaupun dari segi rasa masih kalah beberapa level dibandingkan sama current champion, Mie Ayam Yunus di Pasar Tebet, dan masih satu level kalah enak dibandingin mie ayam seberang kantor, tapi kualitas cukup memuaskan lah, sambelnya juga lebih sehat, apalagi porsinya yang jumbo itu sangat bermanfaat bagi anda yang biasanya makan satu porsi mie ayam reguler dan perut masih meraung-raung.

Lokasi tepatnya ada di "atas" kampus Maranatha, sebelah gerbangnya Bandung International School, Gambrinus. (bay)

Do 'An - Vietnamese

Rating:★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:Cilandak Town Square
I always love viet food..especially the beef noodle.
dulu sebelum jamannya byk resto viet, gw slalu makan di sbuah resto yg skrg kyknya udah tutup dulu ada di Barito (yg skrg Sari Ratu) dan di dkt RSPI.

Waktu kmrn wiken pd mw ngumpul di citos, jadilah gw milih utk nyobain Do An - yg sblmnya gak ada dari kita yg udah pernah makan disitu.

Tadinya gw mo nyoba Fresh Prawn Lumpianya karena emang gw suka banget lumpia viet yg ga digoreng itu, tapi ternyata mayan mahal untuk 1 porsi yg isinya 2 potong hrgnya 25rb. Jadilah beralih ke makan besar aja mesen Beef Noodlenya (aduh di menu sih tulisannya bhs viet jd ga apal) hrgnya sih tmasuk mahal utk ukuran resto Pho2an yg laen, 38 rb. Henny pesen nasi + chicken saos pedes gitu (lupa jg nama Vietnya apah) en Diah pesen Nasi Goreng Spesial (standar banget :P). Menu-menunya termasuk mahal mnrt gw...appetizernya aja 25-30 rban, sementara main coursenya diatas 35rb semua. CUma minumnya sih murmer yaa...es teh2 doang ga sampe 10rb.

Ternyata porsinya masing2 pesenan kita gedaaaaa sekaliiiii...GLEK!

Lgsg diem, pucet bingung mikirin ngabisinnya gmn, scara ini adalah dinner dimana udah jam 9 mlm makanan sudah pasti tercerna jadi lemak (halah, mo makan aja dibahas).

ealaah...sambil ngobrol...gosip sana sini..eh lho kok...abis???..hahahhahaha
geblek deh, pesenan kita semua abis..bis...bissss ...tandas..

enak bgt ternyata beef noodlenya lebih enak dari yg biasa gw sering makan di Pho2 yg laen itu. Kalo menu yg lainnya sih blm nyobain juga, tp next time I'll be back lah...
cuman...knapa menunya mahal bener yak...(keluh)

Tori Udon


Rating:★★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Japanese / Sushi
Location:Cibubur, Jakarta Timur
Pengen shabu-shabu sama sushi padahal lagi di Cibubur Junction? Iyah, saya pernah ngalamin. Craving itu juga yang bikin saya ngajak keluarga besar (4 dewasa dan 1 anak) untuk makan bareng di Tori Udon. Berikut reviewnya:

1. Paket Shabu-shabu Beef, 49.05K
Ini pesenanan saya, isinya beberapa lembar daging sapi dengan sedikit lemak yang udah diiris tipiiis. Ditemanin sama (klo saya ngga salah inget) daun bawang, sawi putih, wortel, jamur shitake, baby kailan, bayam jepang, toge jepang, dan nori. Nori ini saya lupa bentuk mentahnya kayak apa, tapi waktu udah selesai dimasak, Dek Andy (adik saya) yang pernah ke Jepang nyuapin Ibu sambil bilang: "Bu, ini namanya Nori, yang waktu itu aku bawa yang udah dikeringin." (Nori kering ini emang salah satu oleh-oleh yang pernah dibawa Dek Andy, dan saya biasa pake buat campuran telor dadar atau tofu goreng). Meski dagingnya cuma dikit, tapi sayurnya buanyak banget, jadi satu porsi paket Shabu-shabu Beef ini bisa jadi 5 - 6 mangkok kecil. Rasanya masih orisinil, karna bumbu yang dipake cuma bawang putih sama bubuk cabe, ngga kayak shabu-shabu di beberapa resto yang kuahnya berasa kaldu banget atau bahkan rasa tom yum :p

2. Black Pepper Beef with Rice, 23.8K
Ini pesenan Ibu: potongan daging sapi dimasak pake merica hitam, wijen, paprika, dan bawang bombay. Rasanya enak banget, just right lah. Iya sih, seharusnya menu ini memang foolproof, tapi buat saya BP Beef di sini masuk kategori enak banget.

3. Chicken Teriyaki Bento, 26.5K
Ini pesenan Bapak yang cinta banget ama Hoka-Hoka Bento. Di bento box-nya ada nasi, coleslaw, ayam masak teriyaki, sama onion ring. Saya ngga ikut nyobain tapi kayaknya sih OK.

4. Karakuchi Udon, 24.545K
Sebenernya Dek Andy lagi pengen Oden, tapi mereka ngga sedia. Udon ini disajikan di mangkok udon yang guede, isinya saya ngga perhatiin tapi ada daging sapinya. Rasanya pedes-pedes seger, kayak makan tom yam (halah, tom yam lagi) minus asem. Tekstur udonnya juga asik, kenyal dan smooth.

5. Grilled Salmon Sushi Roll, 19.09K
Isinya 6 potong maki sushi yang diisi daging salmon masak, ditutup nori trus ditaburi sedikit tobiko. Disajikan pake saus mayones, shoyu dan pasta wasabi. Rasanya uenaaak, hehehehe.

6. Ebi Soka, 17.181K
Karna sushi pertama tidak mengecewakan, saya pengen nyobain Unagi Roll-nya, tapi ternyata udah habis. Akhirnya pilih Ebi Soka, agak mirip Salmon Roll tapi isinya udang. Ngga mengecewakan juga, tapi saya lebih suka Salmon-nya.

Untuk minumnya kami pesen:
Ocha, 8.5K: pahit dan nutty (katanya diimpor dari Jepang) sesuai harapan saya. Free flow pula baik hot maupun cold.
Ice Kiss Crush, 8K: mirip es teler a la Indonesia.
Cookies n Cream, 17.5K: predictable, enak.
Coca Cola, 6.5K

Oh ya, Tori Udon juga punya menu paket buat 4 - 10 orang (klo ga salah) yang sangat terjangkau. Buat 4 orang misalnya, harganya sekitar 100K, itu udah dapet 2 menu udon, 1 hot plate, 1 bento, dan snack (model spring roll gitu). Menunya juga lumayan ekstensif, makanannya aja kayaknya ada sekitar 50-an jenis.

Total billing hari itu 230K, termasuk pajak tapi ngga ada biaya servis. Unik juga, jadi kita bebas nentuin jumlah tip yang mau dikasih. Overall verdict, puas! Yes, I will come again ^_^



Tori Udon
Cibubur Junction
Jl. Jambore No. 1
Cibubur, Jakarta Timur
Telp: 021 - 8775 6532

foto diambil dari hxxp://www.restodb.com


[Kuliner] Mie Rebus Belitung ... Di Bogor

Tak ada agenda wisata kuliner sebenarnya hari Jumat (27.07.07) kemarin, hanya kebetulan ada kerjaan desain grafis untuk eksebisi di Rakernas BKTRN yang harus ditunggui di studionya Yoga di Cibalagung, Bogor. Namun secara sang desainer punya bisnis sambilan jualan mie rebus a la Belitung di Jalan Pasir Kuda, Bogor, ya pas makan siang saya dijamu oleh tuan rumah, yang sahabat lama saya semasa masih jaman susah ini .

Warung yang terletak sekitar 200 m dari rumah ini tak begitu besar. Dari luar pun penampakannya sangat sederhana, menempati sebuah kios berukuran 2x2 m2 di tepi jalan raya yang menghubungkan Ciomas-Pancasan. Yang jualan sekaligus meracik bumbu khas daerah asal sang istri, tak lain tak bukan adalah istri Yoga sendiri.

Sepiring cukup murah, cuma Rp. 5000. Padahal kalau ditilik lebih lanjut, isinya tergolong mewah untuk harga segitu. Ada udang dan daging sapi, yang air kaldunya menjadi perisa utama penganan khas yang menggunakan mie basah ini.

Selera makan sempat sedikit terganggu secara di tengah-tengah menyantap, terima telpon dari Denny yang mau ngasih tau kemana sprei dan sarung bantal pesanan istrinya kudu diantar *pesansponsor.com*

Rasanya gurih, meski menggunakan udang, tapi perpaduan dengan rasa daging sapi masih tetap terasa. Sayang pakai toge, secara saya menderita asam urat sehingga terpaksa tak saya santap sayuran yang selalu jadi pelengkap penganan khas di Bogor ini. Terus ada juga tahu dan mentimun, dua bahan yang jarang dijumpai dalam satu pinggan dengan mie rebus. Tak ketinggalan daun slada, sebagai hiasan *tapi tetap boleh dimakan kok *. Lebih sedap lagi bila disantap dengan taburan bawang goreng dan sambal tomat yang pedas sedang. Sebaiknya jangan diciprati kecap karena akan merusak rasa.

Well, nice 'free' lunch Yog!

Penasaran mo ngicipin? Sila kunjungi langsung warung mie rebus Belitung di Jl. Pasir Kuda ini. Letaknya tak sulit dicari kok, bisa dari dua arah:

Stasiun Bogor: Jembatan Merah/Kapt. Muslihat ambil arah Gunung Batu, pertigaan dekat Litbang Kehutanan, ambil kiri (arah Ciomas) ketemu pertigaan ambil kiri lagi. 500 meter dari pertigaan ada masjid dan jembatan di kiri jalan, maju 10 meter dan di sebelah kanan jalan itu lah letak warung mie rebus Belitung.

Bogor Trade Mall/Museum Zoologi/Pasar Bogor: ambil jurusan Empang (turun ke bawah), pertigaan ambil kanan, ikuti jalan ketemu pertigaan Pancasan ambil kanan lagi, ikuti jalan, ketemu Kantor Lurah Pasirjaya di kanan lewat sedikit dan tak jauh dari situ di sebelah kiri jalanlah letak warung mie rebus Belitung.

Boleh dicoba nih buat para pakar kuliner MP

Photo credit: jepretan sendiri lah pas makan di sana.

©ciput 2007 all rights reserved.

Appearances