Friday, May 17, 2013

Semarak Kuliner Bali di Linked majalah inflight Citilink

Bepergian dengan Citilink bulan Mei 2013 ini? Jangan lupa buka halaman 50 untuk highlight mengenai jajan kuliner andalan Denpasar terkini, persembahan Epicurina.

Menyesuaikan dengan target tulisan yaitu wisatawan nusantara (wisnus), jadi dipilihkan makanannya yang cocok di lidah dan perut masyarakat Indonesia, sekaligus tidak memberatkan kantong karena rata-rata yang dibahas di sini adalah kuliner kelas streetfood (jajanan pinggir jalan), atau restoran casual:



(byms)

Tuesday, May 14, 2013

Is it good to eat commercially grown soft shell crabs?

Image from Adam Kuban's Flickr
Often looks like something out from Aliens movie, soft shell crab dishes could look intimidating when you can still see its complete parts, but it's a nice treat anyway, especially with its texture.

Recently I have this dilemma though, about consuming soft shell crab ("kepiting soka" in Indonesia), due to how it's commercially cultivated: the young crabs' legs are mutilated to stress the crab, thus in turn soften their shells. The process itself takes about 20 days.


During the whole process, they're left with just the last pair of legs; the swimming legs so they can still move around in the cage and feed themselves, while failure in mutilating process could cause the crab's death.

Mutilated soft shell crab - Trobos.com
While the legs will re-grow eventually since that's the crab's nature, but isn't it cruel? I mean we foodies often talk about banning the commercially created Foie Gras for its inhumane treatment to the goose, and banning shark fins for similar reasons, but now we're encountered something similar and think it's alright.

Different with the "forced" soft shell crab though, what happens in the wild is quite different; no cruelty it's all natural so there's no ethical issue:
For a crab to become larger, it must first discard its old shell and form a new one, which it does periodically throughout its life. To do this, it forms a new 'coat' under its old shell, then swells itself up enough to cause the top and bottom halves of the shell to separate, starting at the back. (source)

You are what you eat

On another perspective, is it good for our spirit to eat something that's created through so much stress? In the distance past there are cannibalistic tribes who eats their enemies believing they will absorb its live power, or forbidding eating specific kind of meal for believing it has bad aura.

I once watched an episode on NatGeo about the Maasai warriors traveling to US, and they refused to bought "fainting goats" that freezes upon feeling fear, for fearing that it's contagious and interfere with their hunting skill; though the farmer has stated that researches shows it doesn't.

I guess the warriors still believes that you are what you eat; perhaps you would too if your life depends on hunting top predator like lions.

More about Congenital myotonia (also myotonia congenita) a.k.a. the Fainting Goats syndrome here.


Any thoughts on this? (byms)

Wednesday, May 1, 2013

Street Food: Duta Budaya Kuliner Indonesia

Sebagai tujuan utama wisata di Indonesia, Bali memiliki beragam pilihan kuliner yang terbagi menjadi dua jenis: kuliner restoran, dan kuliner pinggir jalan; yang terakhir ini dikenal juga dengan sebutan street food.


Jika untuk jenis makanan restoran, Bali memiliki Mozaic, Metis, dan Sarong yang berulangkali mendapatkan pengakuan internasional. Bagaimana halnya dengan kuliner pinggir jalannya? Adakah juga yang unggul? Ternyata sama juga; tak kurang dari dua chef ngetop yang memiliki acara kuliner di televisi internasional, memuji kelezatan dari hidangan Babi Guling Ibu Oka di Ubud. Mereka adalah: Anthony Bourdain (No Reservation) dan Andrew Zimmern (Bizzare Foods).

Ditambah dengan Bobby Chinn (World Café Asia), maka setidaknya sudah pernah ada tiga acara TV internasional yang membuat episode khusus untuk membahas kekayaan kuliner pinggir jalan yang Bali miliki. Dalam liputannya mengenai Bali pun, Samantha Brown (Samantha Brown's Asia) turut mengulas mengenai Ibu Oka.

Mulai berjualan sejak tahun 70an, kini tak kurang dari 500 pengunjung memadati Babi Guling Ibu Oka setiap harinya, dan 1.000 pada akhir pekan; suatu prestasi yang akan sulit disaingi kebanyakan restoran di Bali, yang bertaraf internasional sekalipun. Mayoritas pengunjung Ibu Oka sendiri adalah wisatawan; baik turis Australia, Jepang, maupun wisatawan domestik.

Di tempat lain, Warung Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku dengan hidangan andalannya Nasi Ayam Bali, menerima sekitar 200 pengunjung setiap harinya; jumlah yang sama juga dilaporkan oleh Warung Mak Beng di Sanur yang berjualan hidangan Sup Kepala Ikan. Di semua tempat tersebut, para pengunjung rela untuk antre, makan berdesakan, tak jarang harus mandi keringat, semata-mata karena tertarik akan keunikan dan kelezatan masakan yang tiga warung ini miliki.

Citarasa lokal


Jika kuliner pinggir jalan seringkali identik dengan ketidaknyamanan, dan masih banyak pilihan makanan sejenis disajikan di restoran-restoran yang lebih berkelas, apakah alasan para wisatawan (khususnya yang dari mancanegara) memenuhi tempat-tempat jajanan pinggir jalan tersebut?


Walaupun penulis sudah bisa mengira-ngira sendiri apa jawabannya, penegasan atas dugaan tersebut muncul ketika mendapatkan email pertanyaan dari para penikmat makan enak, baik lokal maupun dari mancanegara yang akan berkunjung ke Bali. Berhubung yang mereka ketahui mengenai Bali sangatlah terbatas, maka biasanya mereka akan meminta saran lokasi kuliner yang wajib dicoba; dan rata-rata tidak minta ditunjukkan restoran yang mewah, namun kuliner-kuliner khas lokal, yang tentunya rata-rata dijual di tepi jalan.

Ketika ditanyakan mengapa, ternyata alasannya rata-rata terkait pentingnya citarasa lokal: “hidangan fine dining ala Perancis bisa kami dapatkan di tempat asal kami dengan mudah, sedangkan di Indonesia saya ingin merasakan cita rasa asli Indonesia.” Atau jawaban versi lainnya: “Saya dari Amerika, ngapain jauh-jauh ke Bali kalau cuma buat makan makanan Mexico?”

Satu hal yang konsisten teramati dari mereka semua, adalah tingginya ketertarikan dari kalangan wisatawan untuk mengenal citarasa lokal; sesuatu yang akan sangat berbeda dari tempat ke tempat, sekaligus sulit untuk dibuat tiruannya. Hal ini selaras dengan pemahaman penulis sendiri, bahwa makanan bercitarasa lokal paling enak biasanya ditemukan tidak di restoran keren, tapi di pinggir jalan.

Memang ada juga sih, turis mancanegara yang takut panas, takut mules, atau gengsian, hingga memilih untuk hanya menyantap makanan yang sudah biasa mereka makan di negara asalnya; namun jika dilihat dari pesatnya trend backpacker dan ecotourism, pengalaman lokal adalah hal yang sangat dicari oleh para wisatawan jenis baru ini, termasuk makanan setempat sebagai bagian pengalaman tersebut.


Salahsatu bukti keunggulan kuliner pinggir jalan dibanding restoran internasional, muncul dalam cuplikan dialog penulis dengan pasangan penikmat makan enak dari San Fransisco, AS. Dari sekian tempat yang penulis sarankan dan dicoba, rupanya mereka lebih terkesan dengan Nasi Ayam Betutu Warung Liku, dan Sop Buntut di Warung Nikmat Bakungsari, daripada dengan makanan di restoran-restoran Barat yang berderet di sepanjang jalan Seminyak dan Oberoi. Hal yang kadang membuat heran, terlebih bagi mereka yang sudah sangat terbiasa dengan masakan-masakan lokal tersebut.

Namun disinilah pentingnya kita menetralkan diri, dan menyadari bahwa apa yang seseorang anggap biasa, bisa jadi dianggap luar biasa bagi orang lainnya.


Pendapat para rekan dari AS ini sendiri penulis anggap shahih karena mereka berdua datang dari salahsatu kota AS dengan ragam dan kualitas kuliner yang tinggi, sering bepergian keliling dunia, plus sebelum mencapai Bali mereka telah mengunjungi terlebih dahulu negara-negara Asia Tenggara lainnya jadi dasar referensinya pun sudah sangat luas. Ditambah lagi, kedua warung tersebut adalah nama-nama yang juga ngetop di kalangan penikmat makan enak domestik.

Berdasarkan hal inilah, penulis yakin kalaupun ada kuliner tepi jalan legendaris di luar Bali yang tidak/sedikit saja mendapatkan kunjungan turis mancanegara, hal itu lebih disebabkan karena keberadaan mereka yang bukan di lokasi tujuan utama wisatawan internasional; bukan karena masalah kualitas, atau selera yang benar-benar berbeda.

Duta Budaya Kuliner


Di kalangan wisatawan nusantara sendiri, sebagai penegas saking berartinya pengalaman makan dalam perjalanan wisata, maka seringkali muncul klaim dengan format sebagai berikut:

“Belum ke” + [nama daerah] + “kalau belum makan di” + [nama kuliner pinggir jalan]

Misalnya:

“Belum ke Kuta kalau belum makan di Nasi Pedas Ibu Andika”
“Belum ke Yogya kalau belum makan Gudeg Yu Djum”
“Belum ke Solo kalau belum makan Nasi Liwet Wongso Lemu”
“Belum ke Madiun kalau belum makan Pecel Mbok Gembrot”
“Belum ke Garut kalau belum makan Nasi Liwet di Asep Stroberi”

Ketertarikan para wisatawan akan kuliner pinggir jalan ini sebenarnya menunjukkan suatu indikasi penting bahwa kuliner pinggir jalan adalah salahsatu pemain utama dalam memperkenalkan identitas lokal suatu daerah, yang pada gilirannya bisa turut mendongkrak nilai jual suatu daerah tujuan wisata.


Dalam lingkup internasional pun, kuliner pinggir jalan bisa berperan besar dalam membantu pembentukan persepsi dunia mengenai kualitas dan Unique Selling Point (USP) dari suatu daerah tujuan wisata, atau malah menegaskan kualitas budaya kuliner suatu negara secara umum.

Menilik hal tersebut, tidak berlebihan kiranya kalau penulis menganggap bahwa kuliner pinggir jalan (street food) sebenarnya adalah para duta budaya kuliner Indonesia.

Maka dari itu, keikutsertaan Indonesia dalam ajang World Street Food Congress di Singapura awal bulan Juni 2013 ini menjadi suatu hal yang penting, karena ini merupakan kesempatan yang tepat untuk memperkenalkan kekayaan budaya kuliner Indonesia kepada para street-foodies internasional: mereka yang percaya bahwa makanan terenak di dunia seringkali ditemukan di pinggir jalan. (byms)

Tuesday, April 30, 2013

Writing assignment vs Free writing

If you find someone believe in your capability and assign you a writing job, congratulations! One thing you should bear in mind though, writing assignments usually comes with strict restrictions. If you want to keep your client happy, then stick to the rules they laid out.

The restrictions applied itself, usually exist due to different nature of your client's need; what is it for? who their target markets are? where it will be published? And those considerations dictates almost directly about what writing style should be applied, and what sort of information and story it should contains.

And what's not less important, is the media's physical and technical limitations, meaning if the article you need to write will occupy an A4 single page (about 400 words), sending a 1,200 words article wouldn't wow your client, but driving their editor crazy instead.

And if you even have the feeling to debate on the need to expand the article into a three pages feature, please understand that most times that's not even your client's decision, and absolutely not yours to make. Stick to the constraints and you'll get a happy client. Fail to understand that, or write something absolutely different from the concept approved, and you can kiss the hope of future assignments goodbye.

In your search of the story though, most of the time you'll get more story than you need. What you'll do with those? Throw them away?

Don't! Put them all together into a form of free writing; a narrative, and often just-flowing, less structured writing that includes all the stories you capture on the assigned subject. This way you'll get a pool of reference that you could use later on, to write on another assignment. After all just like artwork, no writing is completely novel, it's just the different arrangements and components that goes into your writing that will determine its uniqueness and creativity.

Therefore, as a good practice to apply for writing assignments; do the free writing first, then later scoop from it components that required to form the writing assignment. This way you don't throw away precious informations (which could be useful for your next projects), and your client get what they're looking for, along with the high chance for repeat order. Couldn't imagine a happier ending than that. (byms)

Wednesday, April 24, 2013

Epicurina is attending TEDxUbud 2013

Ticket has been paid, marking my calendar for TEDxUbud 2013. Still looking for sponsor for WSFCongress 2013. Well, first thing first...


Anyone else is coming? (byms)
There was an error in this gadget

Monthly popular posts