4 Disiplin Epicurean!

Jadi epicurean memang menyenangkan, bisa terbang ke langit ketujuh hanya gara-gara nemu makanan enak! Mata merem-melek, instant contemplation, atau seakan mendadak dapet pencerahan dari sepiring makanan. Nggak butuh narkoba, psikotropika, dan sejenisnya, cukup makanan! Hoho!

Tapi dalam rangka nyari makanan enak tersebut, tak jarang seorang epicurean juga harus melalui dahulu tahap-tahap eksplorasi yang tak jarang harus dibayar mahal, diantaranya membengkaknya lingkar pinggang, dan terganggunya kesehatan. Baik dari konsumsi makanan enak yang berlebih, atau akibat terlalu banyak nemu sample yang nggak enak jadi rasa laparnya tidak terpuaskan. Timbunan lemak meningkat? Kolesterol tinggi? Perut makin buncit? Mungkin tidak dalam jangka waktu cepat, tapi kalau dibiarkan maka akibatnya bisa fatal juga, atau permanen. Stroke? Diabetes? Karena itulah menjadi seorang epicurean sebenarnya bisa sama berbahayanya dengan menjadi konsumen obat-obatan terlarang yang disinggung diawal tulisan tadi. Ini akan terjadi, apabila profesi epicurean tidak dibarengi dengan disiplin yang kuat.

Disiplin pertama, adalah menghindari kecanduan. Kegiatan, atau hobby apapun kalau sudah sampai tahap kecanduan (can't say no) maka akan membawa akibat buruk.

Disiplin kedua, adalah membatasi diri sesuai porsi. Pengetahuan mengenai gizi akan sangat bermanfaat disini. Perhatikan berapakah asupan energi (dan gizi) yang pas buat badan kita, dan usahakanlah untuk mematuhi perhitungan ini. Bingung ngitungnya? Terapkan saja aturan sederhana; janganlah makan berlebih, apalagi sampai kekenyangan. Tanda-tanda kenyang? Selain dari perut terasa penuh, biasanya akan ada early warning berupa sendawa.

Disiplin ketiga -- yang tak kalah penting, dan mungkin paling mudah diterapkan ---, adalah kebiasaan mengunyah!

Kenikmatan makan, dialami manusia normal 100%nya pada tahap-tahap awal makan; mengecap, dan mencium. Secara teknis, didalam rongga mulut manusia terdapat tasting buds (indera pengecap) pada beberapa lokasi; lidah, pangkal lidah, serta sedikit bagian langit-langit mulut. Lidah memiliki peranan terbesar, dengan konsentrasi indera pengecap pada bagian pinggir lidah. Selain dari tasting buds, hal yang juga penting adalah indera penciuman kita. Indera yang terletak di rongga hidung ini, turut terpengaruh oleh makanan bahkan sebelum makanan tersebut masuk ke mulut kita. Pada saat makan, indera ini juga secara terus menerus mendapatkan rangsangan dari makanan yang kita santap, baik secara internal melalui hidung, maupun secara internal melalui saluran pernapasan.

Bagaimanakah cara indera pengecap mengenali rasa makanan? Berdasarkan reaksi kimia. Bahan makanan yang masuk ke mulut, segera akan bereaksi dengan saliva (air ludah) sehingga terurai menjadi unsur-unsur kimiawi yang kompleks. Komponen kimiawi inilah yang kemudian ditangkap oleh para indera pengecap di mulut, dan diteruskan pesannya ke otak.

Bagaimana caranya agar makanan dapat melepaskan unsur-unsur kimianya? Dengan mengunyah! Memang didiamkan sajapun si makanan lambat laun akan terurai sendirinya akibat reaksi dengan saliva, namun kegiatan mengunyah akan sangat membantu mempercepat proses ini.

Epicurean yang kegemukan, kalau diperhatikan dengan seksama, seringkali terjadi akibat memelihara kebiasaan buruk untuk menelan makanan sebelum dikunyah dengan betul! Jadinya sebelum si makanan menyampaikan seluruh potensi rasa nya, ia sudah keburu diusir dari mulut, dan masuk ke perut untuk dicerna. Dalam tahap ini, sudah tidak ada lagi pesan-pesan rasa yang bisa disampaikan tubuh, karena sudah masuk tahap pengolahan lanjutan. Nutrition takes precendence!

Karena si makanan tidak men-deliver secara penuh potensi rasa nya, maka besar kemungkinan si pelahap akan membutuhkan jumlah makanan yang lebih banyak dari seharusnya, untuk bisa mencapai tahap puas. Semakin pro anda, semakin sulit terpuaskan pula, dan ini bisa berujung pada fenomena "bottomless pit", atau "sumur tiada berujung" pada perut anda. Diisi terus, walaupun sebenarnya sudah melebihi kapasitas yang seharusnya.

Dan akibatnya, aneka masalah kesehatan pun perlahan mulai muncul...

Dengan disiplin mengunyah, maka si makanan akan memiliki waktu lebih lama didalam mulut untuk mengeluarkan seluruh potensi rasanya. Potensi rasa, yang mungkin malah tidak akan termunculkan jika kita terlalu tergesa-gesa dalam mengunyah, dan hanya berhasil merasakan sensasi rasa dari lapisan "kulit"nya saja. Hal ini juga secara otomatis akan menyebabkan kita menyantap dalam jumlah yang lebih sedikit dari biasanya -- Less penalty for your stomach.

Disipilin keempat, sesuaikan tujuan! Apakah anda akan makan, ataukah akan uji-rasa?

Ingat figur kartun Anton Ego di film Rattattouille? Sewaktu Remy menyindir apakah benar ia seorang penggemar makan karena badanya sedemikian kurus, dengan angkuhnya ia menjawab "I don't LIKE food, I LOVE it. If I don't LOVE it, I don't SWALLOW".

Jadi menurut Anton Ego, kalau nggak suka? Jangan ditelen! 

Walaupun mungkin tidak perlu se-drastis ini tindakannya, tapi inti pesannya tetep sama; untuk seorang epicurean; penggemar makan enak, saat food tasting, nggak perlu sampe ngabisin satu atau dua piring penuh makanan untuk sampai pada kesimpulan tentang rasanya. Karena biasanya dalam satu atau dua suapan pun, seorang epicurean sudah bisa menganalisis kualitas suatu makanan dengan cukup baik. Selebihnya? Sudah masuk ke ranah "makan", bukan lagi "uji-rasa".

Disiplin dalam hal ini berarti, kalau anda memang sedang melakukan "uji rasa", maka fokuskan pada sampling banyak jenis makanan, masing-masing dengan jumlah sedikit. Bukan nyoba banyak menu dalam porsi full! Makanya banyak event food-tasting yang diadakan Epicurina sifatnya itu food-sharing, atau "keroyokan" terhadap beberapa menu yang dipesan bersama.

Sedangkan kalau konteksnya sudah berubah menjadi "makan", maka silakan fokus pada satu atau beberapa jenis makanan saja. Tapi tentunya tanpa melupakan tiga disiplin yang sudah diuraikan sebelumnya!

Jadi seorang epicurean bisa tetep sehat? Mengapa tidak? Asalkan mau disiplin! (bay)

5 comments:

Appearances