Street Food: Duta Budaya Kuliner Indonesia

Sebagai tujuan utama wisata di Indonesia, Bali memiliki beragam pilihan kuliner yang terbagi menjadi dua jenis: kuliner restoran, dan kuliner pinggir jalan; yang terakhir ini dikenal juga dengan sebutan street food.


Jika untuk jenis makanan restoran, Bali memiliki Mozaic, Metis, dan Sarong yang berulangkali mendapatkan pengakuan internasional. Bagaimana halnya dengan kuliner pinggir jalannya? Adakah juga yang unggul? Ternyata sama juga; tak kurang dari dua chef ngetop yang memiliki acara kuliner di televisi internasional, memuji kelezatan dari hidangan Babi Guling Ibu Oka di Ubud. Mereka adalah: Anthony Bourdain (No Reservation) dan Andrew Zimmern (Bizzare Foods).

Ditambah dengan Bobby Chinn (World Café Asia), maka setidaknya sudah pernah ada tiga acara TV internasional yang membuat episode khusus untuk membahas kekayaan kuliner pinggir jalan yang Bali miliki. Dalam liputannya mengenai Bali pun, Samantha Brown (Samantha Brown's Asia) turut mengulas mengenai Ibu Oka.

Mulai berjualan sejak tahun 70an, kini tak kurang dari 500 pengunjung memadati Babi Guling Ibu Oka setiap harinya, dan 1.000 pada akhir pekan; suatu prestasi yang akan sulit disaingi kebanyakan restoran di Bali, yang bertaraf internasional sekalipun. Mayoritas pengunjung Ibu Oka sendiri adalah wisatawan; baik turis Australia, Jepang, maupun wisatawan domestik.

Di tempat lain, Warung Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku dengan hidangan andalannya Nasi Ayam Bali, menerima sekitar 200 pengunjung setiap harinya; jumlah yang sama juga dilaporkan oleh Warung Mak Beng di Sanur yang berjualan hidangan Sup Kepala Ikan. Di semua tempat tersebut, para pengunjung rela untuk antre, makan berdesakan, tak jarang harus mandi keringat, semata-mata karena tertarik akan keunikan dan kelezatan masakan yang tiga warung ini miliki.

Citarasa lokal


Jika kuliner pinggir jalan seringkali identik dengan ketidaknyamanan, dan masih banyak pilihan makanan sejenis disajikan di restoran-restoran yang lebih berkelas, apakah alasan para wisatawan (khususnya yang dari mancanegara) memenuhi tempat-tempat jajanan pinggir jalan tersebut?


Walaupun penulis sudah bisa mengira-ngira sendiri apa jawabannya, penegasan atas dugaan tersebut muncul ketika mendapatkan email pertanyaan dari para penikmat makan enak, baik lokal maupun dari mancanegara yang akan berkunjung ke Bali. Berhubung yang mereka ketahui mengenai Bali sangatlah terbatas, maka biasanya mereka akan meminta saran lokasi kuliner yang wajib dicoba; dan rata-rata tidak minta ditunjukkan restoran yang mewah, namun kuliner-kuliner khas lokal, yang tentunya rata-rata dijual di tepi jalan.

Ketika ditanyakan mengapa, ternyata alasannya rata-rata terkait pentingnya citarasa lokal: “hidangan fine dining ala Perancis bisa kami dapatkan di tempat asal kami dengan mudah, sedangkan di Indonesia saya ingin merasakan cita rasa asli Indonesia.” Atau jawaban versi lainnya: “Saya dari Amerika, ngapain jauh-jauh ke Bali kalau cuma buat makan makanan Mexico?”

Satu hal yang konsisten teramati dari mereka semua, adalah tingginya ketertarikan dari kalangan wisatawan untuk mengenal citarasa lokal; sesuatu yang akan sangat berbeda dari tempat ke tempat, sekaligus sulit untuk dibuat tiruannya. Hal ini selaras dengan pemahaman penulis sendiri, bahwa makanan bercitarasa lokal paling enak biasanya ditemukan tidak di restoran keren, tapi di pinggir jalan.

Memang ada juga sih, turis mancanegara yang takut panas, takut mules, atau gengsian, hingga memilih untuk hanya menyantap makanan yang sudah biasa mereka makan di negara asalnya; namun jika dilihat dari pesatnya trend backpacker dan ecotourism, pengalaman lokal adalah hal yang sangat dicari oleh para wisatawan jenis baru ini, termasuk makanan setempat sebagai bagian pengalaman tersebut.


Salahsatu bukti keunggulan kuliner pinggir jalan dibanding restoran internasional, muncul dalam cuplikan dialog penulis dengan pasangan penikmat makan enak dari San Fransisco, AS. Dari sekian tempat yang penulis sarankan dan dicoba, rupanya mereka lebih terkesan dengan Nasi Ayam Betutu Warung Liku, dan Sop Buntut di Warung Nikmat Bakungsari, daripada dengan makanan di restoran-restoran Barat yang berderet di sepanjang jalan Seminyak dan Oberoi. Hal yang kadang membuat heran, terlebih bagi mereka yang sudah sangat terbiasa dengan masakan-masakan lokal tersebut.

Namun disinilah pentingnya kita menetralkan diri, dan menyadari bahwa apa yang seseorang anggap biasa, bisa jadi dianggap luar biasa bagi orang lainnya.


Pendapat para rekan dari AS ini sendiri penulis anggap shahih karena mereka berdua datang dari salahsatu kota AS dengan ragam dan kualitas kuliner yang tinggi, sering bepergian keliling dunia, plus sebelum mencapai Bali mereka telah mengunjungi terlebih dahulu negara-negara Asia Tenggara lainnya jadi dasar referensinya pun sudah sangat luas. Ditambah lagi, kedua warung tersebut adalah nama-nama yang juga ngetop di kalangan penikmat makan enak domestik.

Berdasarkan hal inilah, penulis yakin kalaupun ada kuliner tepi jalan legendaris di luar Bali yang tidak/sedikit saja mendapatkan kunjungan turis mancanegara, hal itu lebih disebabkan karena keberadaan mereka yang bukan di lokasi tujuan utama wisatawan internasional; bukan karena masalah kualitas, atau selera yang benar-benar berbeda.

Duta Budaya Kuliner


Di kalangan wisatawan nusantara sendiri, sebagai penegas saking berartinya pengalaman makan dalam perjalanan wisata, maka seringkali muncul klaim dengan format sebagai berikut:

“Belum ke” + [nama daerah] + “kalau belum makan di” + [nama kuliner pinggir jalan]

Misalnya:

“Belum ke Kuta kalau belum makan di Nasi Pedas Ibu Andika”
“Belum ke Yogya kalau belum makan Gudeg Yu Djum”
“Belum ke Solo kalau belum makan Nasi Liwet Wongso Lemu”
“Belum ke Madiun kalau belum makan Pecel Mbok Gembrot”
“Belum ke Garut kalau belum makan Nasi Liwet di Asep Stroberi”

Ketertarikan para wisatawan akan kuliner pinggir jalan ini sebenarnya menunjukkan suatu indikasi penting bahwa kuliner pinggir jalan adalah salahsatu pemain utama dalam memperkenalkan identitas lokal suatu daerah, yang pada gilirannya bisa turut mendongkrak nilai jual suatu daerah tujuan wisata.


Dalam lingkup internasional pun, kuliner pinggir jalan bisa berperan besar dalam membantu pembentukan persepsi dunia mengenai kualitas dan Unique Selling Point (USP) dari suatu daerah tujuan wisata, atau malah menegaskan kualitas budaya kuliner suatu negara secara umum.

Menilik hal tersebut, tidak berlebihan kiranya kalau penulis menganggap bahwa kuliner pinggir jalan (street food) sebenarnya adalah para duta budaya kuliner Indonesia.

Maka dari itu, keikutsertaan Indonesia dalam ajang World Street Food Congress di Singapura awal bulan Juni 2013 ini menjadi suatu hal yang penting, karena ini merupakan kesempatan yang tepat untuk memperkenalkan kekayaan budaya kuliner Indonesia kepada para street-foodies internasional: mereka yang percaya bahwa makanan terenak di dunia seringkali ditemukan di pinggir jalan. (byms)

11 comments:

Appearances