Food Note: Carrefour Resto Braga - Braga Walk, Bandung

Berbeda dengan lazimnya Food Court Carrefour yang terpisah, maka di Braga Walk ini food courtnya terletak di tengah-tengah area perbelanjaan. Style ini sebelumnya telah diadaptasi dengan baik oleh Giant cabang Plaza Semanggi, dimana para pengunjung bisa langsung duduk untuk makan atau rehat sejenak tanpa harus keluar area perbelanjaan dahulu.

Dengan demikian, sama halnya di CaFo Braga Walk ini, pengunjung bisa beristirahat sejenak sambil minum / makan ditengah-tengah kegiatan wisatanya.

Koq wisata?

Lho bukankah berbelanja memang merupakan salahsatu bentuk rekreasi masyarakat kota? Mau beli sabun cuci dan beras pun harus ke hypermarket... alasannya, "sekalian refreshing". (... dan berakhir dengan migrain akibat over budget... )

Jadi sebenernya langkah yang dilakukan Giant dan CaFo ini sudah cukup jitu. Lagi belanja cape? Parkir trolley, ambil teh botol dari cold display, duduk, minum, bayar. Atau sekalian saja "ngemil" dulu nasi goreng Yang Chow atau Beef Stroganof.

Tapi jangan keburu kecil hati juga, istilah "ngemil" mungkin terlalu under-estimating buat sebagian besar pengunjung berperut normal, karena sebenarnya dengan harga yang termasuk ekonomis untuk daerahnya (rata-rata 10K), porsi yang ditawarkanpun ternyata tidak mengecewakan. Apalagi dengan banyaknya pilihan yang ditawarkan, Resto Braga nya Carrefour ini bisa jadi pilihan yang menarik dan murah meriah.

Awalnya waktu kami datang, tempat ini kelihatan sepi dan hanya ada dua pelanggan, mungkin karena pengunjung lain banyak yang ragu dengan kualitas tempat ini. Sedangkan kami karena penasaran, tanpa banyak menimbang-nimbang langsung mencari tempat duduk. Setelah menimbang-nimbang beberapa pilihan, akhirnya saya milih Nasi Goreng Yang Chow (10K) yang kelihatannya sedang naik daun. Kelebihan dari nasi goreng yang satu ini adalah, isinya yang condong kearah nasi goreng seafood, tapi dengan tambahan sayuran dan karakter rasa yang light. Isteri memesan Beef Stroganoff (10K). Minumnya Teh Botol Sosro dan Fruit Tea (2.5K).

Mungkin aura epicurean kami terasa kuat, maka tak berapa lama kemudian turut bergabung sekelompok remaja, yang sebelumnya beberapa kali bolak-balik tempat ini. Tak lama kemudian turut bergabung sekelompok remaja lainnya, dan tak lama kemudian Resto Braga inipun fully-booked hingga ke meja seberang.

Sayangnya, kapasitas staff yang hanya dua orang, ditambah sistem yang kelihatannya masih belum jelas, mengakibatkan masalah dalam pelayanan. Misalnya pesenan saya, berhubung pelanggan-pelanggan lain kompak memesan nasi goreng seafood, maka dengan heran saya perhatikan Juru Masak yang bertugas menyatukan pesanan saya dengan mereka. Padahal saya sudah dua kali mengingatkan ybs kalau saya memesan Nasgor Yang Chow duluan. Dan Yang Chow sudah jelas beda dengan Seafood... lah di menu nya aja dibedain... Pun ketika sepiring nasi goreng akhirnya terhidang di hadapan saya, dan saya tanya apakah ini Nasgor Yang Chow? Si Juru Masak (dengan muka tegang) mengiyakan. Padahal jelas-jelas saya lihat ia berasal dari wajan yang sama dengan pesanan tetangga-tetangga saya ini.

Tapi berhubung sudah tiga kali strike, saya jadi ragu mau komplaint, bukan apa-apa, khawatir nggak nemu jalan keluar, lha udah tiga kali diingetin... Diprotes juga keliatannya sia-sia... hehe. Pilihan akhirnya tinggal dua: walk-out, atau pasrah nrimo. Dan berhubung pesanan isteri nggak ada masalah, sayapun milih options number two saja, toh karakter rasanya tetep mirip-mirip. Apalagi setelah nyoba sambelnya dan jatuh hati...

Oh ya, selain dari menu masakan yang dimasak langsung, terdapat juga aneka pilihan paket siap saji, termasuk paket ayam bakar dan nasi rendang daging sapi. Mau di-combine dengan pilihan menu masak langsungnya juga boleh-boleh saja koq.

Selain catatan soal pelayanan tersebut, dari soal taste ternyata surprisingly good. Daging pada Beef Stroganoffnya agak liat, keliatannya kurang lama dirajam pake tenderizer hammer, tapi bumbu-bumbunya cenderung pas. Ngintip bumbu-bumbu waktu mereka masak, ternyata ada secret ingredients yang dipakai; suatu tepung bumbu bernama "Knorr Demi Glaze".

Setelah beres makan, kamipun langsung bergerilya ke deretan rak bumbu dan saus, tapi sayangnya hanya menemukan Sambel Dua Belibis Saus Cabe nya saja. Sedangkan Knorr Demi Glaze nya? Ternyata menurut keterangan dari staff dapur, barang tersebut tidak dijual tapi diadakan khusus untuk keperluan dapur. Too bad.

Kesimpulan akhirnya, selain dari standar service yang masih harus diperbaiki, kualitas dan kuantitas dan harga cukup menggembirakan.

Sayangnya menurut selentingan kabar, Carrefour di Braga Walk ini mengalami masalah kurangnya pengunjung dan mungkin akan berujung di relokasi. Padahal ada juga bangunan hotel disini, dan kalau nggak salah apartement juga. Tapi yang lebih mengherankan sebenarnya adalah bukanya juga gerai Star Mart yang langganan bercokol di bangunan apartement itu, nyaris sebelah-sebelahan dengan CaFo. Mengejar pembeli yang malas masuk hypermarket dan ngantri panjang di kasir? Rada-rada aneh soalnya, menempatkan diri untuk bersaing dengan Carrefour.

Anyway, akhirnya kami berhasil nemu secret ingredients yang dimaksud di toko Setiabudhi. Toko yang terkenal sebagai penyedia barang-barang import ini memang merupakan salahsatu tujuan utama untuk mencari item-item import yang sulit dicari di supermarket biasa. Cuma karena harganya yang lumayan yahud (sekitar 80K), dan perkiraan pemakaian yang hanya sewaktu-waktu, kami rada khawatir ujung2nya mubazir... ada yang mau share? (bay)

5 comments:

Appearances