Warung Begor Palupi Jakarta


Rating:★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:Jl. Bangka I
Jajal Bebek Goreng Palupi!

Sore hari itu, sebenarnya perut saya masih kekenyangan dan mata mulai berat, karena siangnya habis makan di Kafe Solo, Citos, setelah sebelumnya pun ada meeting dengan rekan-rekan penulis.

Namun rasa cape ini segera terabaikan ketika akhirnya saya berhasil menemukan tempat yang dituju untuk acara jajal bareng Epicurina sore hari itu. Tempat yang ternyata bernama "Begor" ini, untungnya masih menyimpan kata "Palupi" di keterangan cabangnya, sehingga saya yakin tempat inilah yang dituju. Pertemuan Epicurina ini adalah pertemuan ulang pertama setelah beberapa lamanya vacuum.

Warung "Begor" yang menempati beranda dari sebuah rumah ini, dinaungi oleh atap kayu, dan menyediakan empat buah meja yang muat untuk sekitar enambelas orang. Hidangan yang tersaji adalah bebek goreng, burung dara goreng, dan tempe-tahu. Karena khawatir tidak cukup untuk diserbu tim Epicurina, maka sayapun bertanya pada pramusaji yang melayani, ada berapa ekor bebek lagi tersisa. Untungnya, walaupun tinggal lima ekor yang tersisa, mereka ternyata masih mempunyai stok di tempat penyimpanan, yang segera dikeluarkan sewaktu saya bilang butuh sekitar sepuluh potong bebek.

Ditemani jus tomat (4K), sayapun mulai bertukaran sms dan telepon dengan rekan-rekan yang berjanji untuk hadir, namun belum kelihatan batang hidungnya. Riawaty (kimi_shuke) ternyata nyasar kearah Cawang, Yohan sedang terjebak macet di tol Jagorawi, sedangkan Catherine dan Endro sedang dalam perjalanan.

Rumah yang sekaligus merupakan sekretariat yayasan keagamaan ini, memiliki ruangan musholla di bagian dalamnya, sehingga ketika waktu sholat tiba, pengunjung muslim bisa memilih untuk sholat di masjid sebelah, atau di musholla di dalam rumah.

Catherine yang datang paling awal memperkenalkan temannya; Hari, yang kemudian ketahuan sebagai penggemar makan juga, sekaligus perally mobil jeep. Ria yang datang bersama anak dan babysitternya langsung membuka acara makan-makan kita sore itu karena rasa lapar yang sudah menggantung.

Untuk perkenalan, dicobalah menu Burung Dara Goreng (12K) yang tinggal satu ekor tersisa, dan seporsi Bebek Goreng (10K) berserta nasi putih (3K).

Burung Dara nya tampil agak kering dan kurang mendapat appraisal dari Ria, terutama karena bumbu yang kurang meresap. Namun Bebek Gorengnya mendapat nilai 8! Padahal Ria ini termasuk pelit dalam memberi nilai.

Bebek Goreng yang hadir dengan ukuran sedang ini, menurut Yohan yang datang kemudian adalah ukuran standar bebek goreng ala Surabaya. Bebeknya digoreng cukup kering sehingga kulitnya agak crispy, namun daging yang masih empuk dan basah. Dengan bumbu yang meresap, dan tulang-tulang kering yang renyah, hidangan ini cukup mendapat acungan jempol dari seluruh peserta, termasuk Enung yang datang terakhir.

Nasi putihnya hadir dengan hiasan bumbu basah berwarna kehijauan di bagian atasnya, yang ternyata cukup untuk meminyaki dan membumbui sepiring nasi tersebut. Rasanya gurih, namun untuk Yohan terlalu kentara rasa MSG nya sehingga agak membuat bergidik.

Sambal yang menemani Burung Dara dan Bebek nya, terdiri dari dua jenis; yang pertama sambal goreng terasi yang pedas manis gurih, mirip sambal goreng Ayam Suharti namun tidak terlalu kering. Sambal lainnya adalah sambal dengan irisan mangga yang pedas segar, membantu menyeimbangkan rasa daging bebek yang gurih.

Walaupun setting tempatnya sederhana, dan pilihan menu terbatas, namun perlu diakui kalau bebek goreng "Begor" layak mendapat penilaian tinggi karena rasa bebek gorengnya yang okehh. So, selain dari Bebek Goreng di Petogogan dan Begor di Bangka I, ada yang punya rekomendasi lain?

6 comments:

Appearances